Mengenal Tarian Gandrung Banyuwangi yang Menjadi Warisan Budaya Tak Benda, Begini Sejarah dan Faktanya

inNalar.com – Mari mengulas tarian Gandrung yang masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda Geopark Global UNESCO Ijen.

Gandrung Banyuwangi merupakan seni pertunjukan tarian dan nyanyian dengan iringan alat music.

Memiliki perpaduan khas Jawa-Bali dan tarian ini menjadi sorotan dalam presentasi Tematik pada Konferensi Internasional Geopark UNESCO ke-10.

Baca Juga: Masuk 3 Besar ADWI 2023, Desa Wisata di Kalimantan Timur Ini Populerkan Kearifan Budayanya

Terdapat sejarah dan fakta yang menarik tentang tarian Gandrung Banyuwangi.

Merupakan ikon Banyuwangi yang dan menjadi penyambutan acara pernikahan, musim panen atau khitanan.

Perpaduan dua budaya yang khas yaitu Jawa-Bali dan Tarian Gandrung merupakan kebanggaan masyarakat Banyuwangi.

Baca Juga: Mantan Pelabuhan Terbesar di Kalimantan Barat Ini Ternyata Berada di Tengah Kota, Bisa Tebak Lokasinya?

Tarian yang awal mulanya diperagakan oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan.

Masuknya agama Islam menyebutkan bahwa laki-laki berdandan seperti perempuan merupakan hal yang tabu.  

Sejak saat itu Gandrung terhenti sebab penari terakhir meninggal dunia.

Baca Juga: Apakah Benar Dosa Zina Tidak Dapat Diampuni Selama 40 Tahun? Berikut Jawaban Buya Yahya

Saat itu yang boleh menarikan Gandrung ialah hanya keturunan para penari sebelumnya.

Pada 1895 ada seorang anak perempuan kecil yang mengidap penyakit parah dan usaha orang tua yang tak kunjung berhasil.

Suatu saat sang ibu pun bernazar kalau sang anak sembuh maka akan menjadikannya Seblang.

Akhirnya sang anak pun sembuh dan ia menjadi Seblang yang merupakan awal mula tarian dimainkan oleh perempuan.

Anak perempuan tersebut bernama Semi dan ia pun mulai memainkan Gandrung yang diikuti oleh anak perempuan lainnya.

Sampailah di tahun 1970-an tarian ini dimainkan oleh semua kalangan dan menjadi sumber mata pencaharian.

Terdapat beberapa fakta unik mengenai tarian ini antara lain

  • Dahulu ditarikan oleh laki-laki
  • Merupakan tarian untuk mempersatu masyarakat
  • Mahkota yang terbuat dari kulit kerbau
  • Tarian yang dilakukan secara berpasangan
  • Menjadi Warisan Budaya Tak Benda Geopark UNESCO Ijen

Adapun makna yang terkandung yaitu kata Gandrung sendiri yang mempunyai arti tergila-gila atau terpesona.

Makna yang ditunjukan oleh Dewi Padi yang telah memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

Tarian ini dilakukan sebagai tanda terimakasih dan bergembira atas panen besar-besaran. ***

Rekomendasi