

inNalar.com – Ruwatan atau Ruwat adalah tradisi khas Jawa yang diangggap sakral.
Dianggap sakral karena dipercaya dapat mengusir keburukan, kutukan, atau apapun tu yang membahayakan diri seseorang atau sekelompok.
Biasanya, Ruwatan ini diselenggerakan pada Bulan Muharrram.
Baca Juga: Wisata Religi di Surabaya yang Menjadi Pusat Kunjungan Umat Islam Setiap Tahunnya
Makna Ruwatan atau Ruwat sendiri berarti membebaskan. Membebaskan disin dalam artian membebaskan seseorang atau bahkan sekelompok orang dari energi negatif.
Untuk Ruwatan, dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Ruwatan Sukerta, Ruwatan Lembaga, dan Ruwatan Sengkala.
Nah, yang paling populer adalah hanya Ruwatan Sengkala dan Ruwatan Sukerta.
Baca Juga: Pulau Morotai, Salah Satu Daerah di Indonesia yang Menjadi Saksi Perang Dunia Kedua
Adapun yang dimaksud dengan Ruwatan Sukerta adalh Ruwatan yang dilakukan untuk seseorang dengan kondisi yang dianggap berpotensi mendatakangkan mudharat atau kesialan.
Sedang Ruwatan Sengkala, dilakukan untuk membersihkan pengaruh buruk yang akan menghambat kesuksesan seseorang atau sekelompok.
Dalam penyelenggaraannya, Ruwatan membutuhkan sajen atau persembahan berupa bunga, makanan tradisional yang memiliki makna simbolik dalam budaya Jawa, dan yang terakhir adalah dupa.
Baca Juga: Fantastis! Pendapatannya Capai Rp50 Miliar per Tahu, Desa Terkaya di Indonesia Ternyata Ada di Bali
Setelah semua persiapan selesai, Ruwatan dimulai dengan doa dan ritual siraman.
Ritual Siraman ini berfungsi dan dipercaya untuk membersihkan dan menghapus segala energi negatif dan membuka keberkahan.
Selain Siraman, ada persembahan sesajen yan mengandung filosofi di setiap jenisnya. Misal, seperti nasi kuning yang menggambarkan kemakmuran dan tumpeng untuk melambangkan rasa syukur.
Baca Juga: Jejeran Tiang Bernilai Rp193 Miliar Mangkrak, Proyek Monorel Ini Masih Jadi Sorotan
Bagian utama dari Ruwatan adalah pertunjukan wayang kulit, khususnya cerita Murwakala.
Yang mana dalam cerita ini, tokoh yang bernama Batara Kala, yang dianggap membawa nasib buruk, ditunjukkan agar peserta Ruwatan dapat terhindar dari pengaruh buruk tersebut.
Sedangkan, dalang yang memimpin pertunjukan wayang tersebut akan melafalkan doa-doa khusus serta mantra untuk memastikan peserta terlindung dari hal-hal negatif.
Baca Juga: Giatkan Pemberdayaan, Kredit UMKM BRI Capai Rp1.105,70 Triliun per Triwulan III 2024
Upacara ini juga sering dilakukan pada momen-momen penting, seperti bulan Suro kalau dalam kalender Jawa, yang dianggap sebagai waktu yang tepat untuk membersihkan diri dari hal negatif.
Pokoknya, dengan segala keunikannya, Ruwatan menjadi salah satu tradisi yang kaya akan nilai budaya.
Sebagai warisan budaya, Ruwatan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang wajib dilestarikan.
Tradisi ini tidak hanya memegang unsur budaya, tetapi cara masyarakat Jawa untuk menjaga kehidupan yang rukun dan harmonis.***(Refaldo Pekerti Al Ghiffari)