

inNalar.com – Indonesia memiliki banyak persebaran candi peninggalan kerajaan kuno yang tak ada habisnya untuk dikulik penelusuran sejarahnya.
Terdapat hal menarik yang ternyata mengundang rasa penasaran para peneliti dari bentuk fisik Candi Sukuh yang berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Salah satu peninggalan kuno yang kian mengundang perhatian akhir-akhir ini bukanlah Candi Borobudur atau pun Candi Prambanan yang telah dikenal banyak orang di seluruh Indonesia.
Bangunan peninggalan kuno yang satu ini disebut para peneliti bukan termasuk candi yang megah sebagaimana Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Baca Juga: Kronologi Tragedi Tali Lift Putus di Ayuterra Resort Bali, 5 Pegawai Tewas di Tempat
Pada sebuah Jurnal Pendidikan Sejarah (Februari 2023) yang berjudul “Candi Sukuh dan Cetho: Studi Komparasi Historis, Arsitektur dan Kultural” dijelaskan asal-usul penamaan candi ini.
Penjelasan mengenai penamaan Candi Sukuh bersumber dari seorang juru kunci Candi yang berada di Kabupaten Karanganyar yang bernama Sunarto.
Diungkapkan bahwa kata ‘Sukuh’ diambil dari ungkapan bahasa Jawa ‘Kesusu tapi Kukuh’.
Apabila diuraikan secara panjang, maka bisa dipahami bahwa Candi Sukuh ini dibangun secara tergesa-gesa, tetapi hasil kualitas pembangunannya tetap kokoh hingga kini.
Candi yang terletak di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah ini ditemukan dalam kondisi tidak utuh alias runtuh pada tahun 1815 dan mulai diteliti pada tahun 1842 oleh Van der Vlis.
Van der Vlis, arkeolog berkebangsaan Belanda, menulis laporan penelitian tentang candi tersebut dalam bukunya yang berjudul ‘Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto’.
Pada tahun 1864-1867, seorang peneliti bernama Hoepermen dan Verbeek melanjutkan penelitian tersebut dalam bukunya ‘Hindoe Oudheiden’.
Pada tahun 1917, Badan Purbakala dari Pemerintah Hindia Belanda sempat merehabilitasi candi tersebut guna mengokohkan kembali bentuk bangunan yang ada.
Usut punya usut, ternyata Candi Sukuh merupakan bagian dari peninggalan Kerajaan Majapahit pada masa menjelang keruntuhannya.
Dugaan tersebut dapat ditangkap melalui kondisi bangunan Candi Sukuh yang terkesan tidak rapi dan tidak pula semegah candi lainnya.
Diperkirakan kondisi sosial, ekonomi, dan politik saat pembangunan candi yang berada di Kabupaten Karanganyar ini sedang berada pada masa yang tidak stabil sehingga bangunan fisik yang terlihat tidak semegah candi lainnya.
Alasan lainnya juga dimungkinkan karena adanya kebutuhan pemujaan yang secara mendesak bangunan tersebut perlu segera diwujudkan.
Terlepas dari ketidakrapian struktur bangunannya, ternyata para peneliti menangkap keunikan yang perlu diungkap dari bentuk bangunan fisik Candi Sukuh.
Bentuk bangunan Candi Sukuh disebut menyalahi pedoman kitab suci agama Hindu dan tidak merepresentasikan budaya hindu pada zaman pembangunannya.
Bangunannya yang menyerupai piramida tersebut kemudian diduga lebih mirip dengan desain bentuk bangunan suku Maya yang berada di Meksiko.
Adanya desain tumpukan batu tersusun ke atas berbentuk punden berundak inilah yang membuatnya sering dikaitkan dengan adanya dugaan bahwa terdapat kemiripan dengan bangunan Chichen Itza dari suku Maya.
Namun hingga kini belum ada hasil penelitian yang mengungkap siapa tokoh pembangun Candi Sukuh.
Selain itu, belum terungkap pula adanya interaksi khusus antara masyarakat zaman candi tersebut dibangun dengan peradaban suku maya di Meksiko.***