

inNalar.com – Soeharto menikahi Siti Hartinah, atau dikenal dengan sebutan Ibu Tien, pada akhir tahun 1947.
Soeharto yang sibuk menghabiskan waktunya di arena pertempuran, awalnya tak sempat memikirkan pernikahan.
Atas tawaran dan dorongan dari bibinya, Soeharto akhirnya menikah dengan teman sekelas adiknya yang bernama Siti Hartinah.
Dilansir inNalar.com dari buku berjudul “Biografi daripada Soeharto” karya A.Yogaswara, berikut faktanya.
Menikah Tanpa Didasari Cinta
Kata orang Jawa, ‘witing tresno jalaran soko kulino’, artinya rasa cinta bisa tumbuh karena sering bersama.
Istilah ini cocok untuk kisah pernikahan Soeharto. Sebelum menikah, ia hanya sebatas mengetahui Siti Hartinah. Tidak kenal, apalagi cinta.
Baca Juga: Resmi! Organisasi Projo Bakal Dukung Prabowo di Pilpres 2024: Bukti Tegak Lurus ke Jokowi?
Ibu Prawirowihardjo, sebagai seorang bibi yang sudah seperti ibu sendiri, mengusahakan pernikahan keponakannya itu.
Meski Soeharto sempat minder karena keturunan ningrat Siti Hartinah, yang namanya jodoh takkan lari kemana.
Sang bibi memiliki perantara yang dapat mengantarkan pertemuan keponakannya dengan keluarga RM Tumenggung Soemoharjomo.
Sebagai sosok prajurit pembela negara yang hidup di medan perang, nyatanya Soeharto gugup juga waktu bertemu calon istrinya.
Ia khawatir takkan diterima atau tak disukai perempuannya. Tapi, kali ini takdir berpihak padanya.
Siti Hartinah, ternyata sudah mengetahui bagaimana sosok Soeharto, dan ia tak keberatan memiliki suami seorang prajurit.
Setelah melakukan pertemuan tersebut, tepatnya pada tanggal 26 Desember tahun 1947, pernikahan keduanya dilangsungkan juga.
Berangkat dari Yogyakarta, Soeharto mengenakan pakaian adat Jawa dengan sebilah keris di punggungnya.
Sore hari itu, acara pernikahan berjalan dengan lancar dan dimeriahkan oleh kebanyakan orang dari keluarga dan teman mempelai putri.
Tentu saja, ayah Siti Hartinah, RM Tumenggung Soemoharjomo merupakan orang yang cukup terpandang di daerah tersebut.
Slametan Pernikahan Hanya Diterangi Lilin
Pada malam harinya, sesuai adat istiadat Jawa, slametan atas pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah dilaksanakan.
Situasi perang membuat slametan tidak mungkin diterangi banyak cahaya, khawatir Belanda tiba-tiba meluncurkan serangan udara.
Tak ada lampu, lilin pun jadi. Slametan pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah, hanya remang-remang oleh cahaya lilin.
Tiga hari setelah itu, mempelai pria langsung memboyong mempelai putri ke kota Yogyakarta.
Disanalah sejarah Siti Hartinah, sebagai penyokong kekuatan besar Soeharto dimulai.
Begitulah kisahnya, tak seperti kebanyakan kisah yang lain, pernikahan mereka berdua tak didasari oleh cinta.
Meski begitu, rekaman sejarah mengungkap, kehidupan rumah tangga Soeharto dan Siti Hartinah terbilang cukup hangat dan romantis. ***