

inNalar.com – Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara sebelum perang kemerdekaan. Kerajaan ini berdiri sudah sangat lama jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Majapahit juga termasuk kerajaan Hindu-Budha terbesar di Nusatara.
Meski demikian, saat ini ada garis keturunan Majapahit yang masih hidup di sebuah desa.
Diketahui warga Desa Manduro mengaku masih memiliki keturunan Majapahit kampung tersebut letaknya di tengah hutan jati daan perbukitan Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Baca Juga: 5 Kabupaten Terluas di Jawa Barat 2024, Nomor 1 Disabet Daerah Berjuluk Ratu Kidul Ini
Desa Manduro menggunakan bahasa yang unik dalam kegiatan sehari-hari.
Tidak seperti penduduk Jombang pada umumnya yang menggunakan bahasa Jawa. Mereka lebih sering menggunakan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Madura yang digunakan terdengar asing di telinga orang-orang Jawa.
Lantaran sudah tercampur dengan budaya Jombang, sudah banyak warga yang menggunakan bahasa campuran seperti Indonesia, Jawa, dan Madura.
Sebagian besar masyarakat desa ini bekerja sebagai petani dan juga memiliki kebiasaan berburu binatang liar.
Warga setempat juga memelihara anjing pemburu sebagai bagian dari tradisi berburu yang sudah diturunkan dari nenek moyang.
Baca Juga: Terus Dihantam Ombak! Pulau Mungil di Kepulauan Riau ini Terancam Hilang Tenggelam
Terdapat sebuah patung penari di tengah desa yang menjadi ikon kebannggaan masyarakat Menduro.
Patung tersebut melambangkan tarian Sandur Manduro yakni sebuah tarian tradisional yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh warga setempat.
Mereka juga sangat ramah dan mudah bergaul dengan orang luar meski hidup di desa terpencil.
Baca Juga: 3 Kampung di Indonesia yang Menolak Masa Depan, Ternyata Begini Alasannya
Warga Manduro berinteraksi dengan pendatang, mereka akan menggunakan bahasa Jawa. Namun, dalam percakapan antarwarga, bahasa Mandura masih menjadi pilihan Utama.
Warga Kampung Manduro mengaku berasal dari garis keturunan dari Aria Wiraraja.
Aria Wiraraja merupakan tokoh pemimpin pada abad ke-13 di Jawa dan Madura.
Menilik dari sejarah, Aria Wiraraja merupakan tokoh dibalik jatuhnya Kerajaan Singasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit.
Ketika usianya 30 tahun, ia telah diangkat menjadi penasihat raja Kerajaan Singasari pada masa pemerintahan Raja Kertanegara.
Kemudian, Aria dipindahkan ke Sumenep karena terjadi konflik intern di dalam kerajaan dan menjadi Adipati Sumenep pada usia 37 tahun.
Dalam konflik itu, menantu Raja Kertanegara, Raden Wijaya mengungsi ke Sumene, lalu meminta perlindungan dari Aria Wiraraja.
Saat Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit, Aria Wiraraja diangkat menjadi pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Aria Wiraraja Makapramuka.
Aria Wiraraja memiliki kecerdikan yang dapat mengatur stategi siasat perang dan membuat Kerajaan Majapahit berhasil mengusir pasukan Mongol Tartar yang datang menyerang. *** (Ummi Hasanah)