

inNalar.com – Proyek tambang Tembaga Tujuh Bukit tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia saat ini.
PT Merdeka Copper Gold merupakan pengelola dari proyek tambang Tembaga Tujuh Bukit tersebut.
Lokasinya sendiri ada di Desa Sumberagung, Kec. Pesanggaran, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur.
Boyke Poerbaya Abidin selaku Chief of External Affairs Merdeka Copper mengatakan bahwa proyek ini nantinya dapat berproduksi di 2027 nanti.
Kemudian sekaligus menandakan adanya transisi operasi penambangan yang dilakukan di area terbuka lalu menuju ke area bawah tanah.
Ia mengungkapkan bahwa area penambangan tersebut akan digali lebih banyak.
Baca Juga: Cara Mengubah Transaksi Kartu Kredit Menjadi Cicilan di BCA Mobile, Minimal Belanjanya Segini
Jika sebelumnya hanya berisi kandungan emas dan perak, maka kali ini bisa mendapatkan kandungan mineral jenis tembaga hingga emas.
Menurutnya, tambang Tembaga Tujuh Bukit di area bawah tanah tersebut dapat berumur 20 hingga 30 tahun.
Adapun potensi proyek ini dapat mencapai total kapasitas produksi hingga 24 juta ton bijih setiap tahunnya.
Kemudian maksimal produksi tembaga sebanyak lebih dari 110 ribu ton serta 350 ribu ounce emas dalam konsentrat per tahun.
Melansir dari laman resmi Merdeka Copper, penambangan di Jawa Timur ini telah menelan biaya hingga 176 juta dolar AS sejak tahun 2018 lalu.
Ia menjelaskan pula bahwa ke depannya pun akan memerlukan dana investasi yang cukup besar untuk pengembangan tambang Tembaga Tujuh Bukit.
Perusahaan ini juga telah melakukan pengeboran sumber daya mineral di bawah tanah.
Prosesnya sendiri sudah berjalan dengan sangat baik pada tahun ini.
Per September 2023, proses pengeboran tersebut telah dilakukan sepanjang 26.290 meter.
Kemudian akan terus berlanjut sampai targetnya yakni 10.375 meter.
Untuk proses tambang Tembaga Tujuh Bukit berikutnya akan ditargetkan di kuartal pertama pada tahun 2024 nanti.
Tentu saja diharapkan bisa memberikan tambahan besar bagi eksplorasi sumber daya di Indonesia.
Sampai saat ini sendiri pendanaan proyek tersebut masih mengandalkan perbankan dan pasar modal.***