

inNalar.com – Beberapa hari yang lalu, serangan bombardir Hamas telah mengacaukan sebagian besar Israel.
Tak luput pula kota Gaza, perbatasan yang menjadi medan perang antara Hamas dan Israel. Senin (9/10) lalu Israel tengah menyetop pasokan.
Pasokan listrik, air, makanan, minyak, hingga pasokan lain telah diberhentikan oleh Israel ke Gaza.
Sehingga Gaza hingga kini menjadi kota mati, tak ada cahaya yang bersinar dari perkotaan tersebut. Dikarenakan ultimatum yang diberikan Israel kepada Hamas tak digubris.
Sebelumnya Hamas sempat mengancam Israel lewat tayangan video di televisi terkait penculikan, pembunuhan, dan penyanderaan tentara Israel.
Israel yang saat itu juga mengalami konflik internal politik di pemerintahan kebingungan terkait serangan yang dilancarkan Hamas dan sekutu secara bertubi-tubi.
Baca Juga: Mengulik Sejarah Waduk Jatigede di Sumedang yang Kini Sedang Surut, Ternyata Dulunya Desa…
Dilansir dari Al Jazeera tempat penampungan, rumah sakit, dan tenda umum yang digunakan oleh pengungsi Palestina di Gaza sempat mengalami ‘blackout’.
Kejadian tersebut bermula akibat Israel melarang adanya pasokan bahan bakar, persediaan pangan, dan pasokan lainnya untuk melewati jalur Gaza.
Akibatnya suara roket kematian yang menghantam Gaza semakin menakutkan dan menyeramkan bagi keberlangsungan hidup warga Palestina.
Bombardir serangan Israel, seolah-olah mengingatkan tak ada jaminan hidup untuk warga sipil dan pengungsi Palestina.
Menurut penuturan Sheikh Ali warga Palestina yang selamat dari bombardir Israel dan Gaza, menyatakan bahwa dirinya hanya bisa melihat keluarganya terkena dampak dari efek serangan tersebut tanpa bisa menolongnya.
Jalur Gaza berada dalam kengerian, warga sipil yang terjebak masih belum dapat keluar dan mengungsi. Serangan balasan antara Israel dan Hamas terus berlanjut.
Kengerian itu ditambah banyak rumah sakit yang terdampak akibat serangan bertubi-tubi. Serta tidak adanya pasokan yang menunjang rumah sakit di Gaza.
Diketahui pembangkit listrik yang ada di Gaza telah berhenti berfungsi mulai dari hari Rabu kemaren. Hingga sekarang warga masih mengalami ‘blackout’.
Disebutkan oleh Ashraf Al Qidra juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina, menyatakan bahwa blokade yang dilakukan Israel, membuat medis dalam bahaya.
Operasi medis yang ada di Gaza bisa menjadi kekejaman yang menakutkan, korban efek dari peperangan Hamas dan Israel tidak bisa ditangani secara langsung.
Dikatakan dalam pernyataan ke media pada hari Rabu kemaren, ‘Operasi medis kami masuk dalam kategori yang membahayakan,” ucap Ashraf jubir Kementerian Kesehatan Palestina.
Tanpa adanya tindakan dalam rangka memulihkan pasokan listrik di Gaza mengakibatkan korban luka menjadi meninggal karena tidak dapat ditangani secara benar. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi