Menarik! Soeharto Ungkap Aksara Jawa Bisa untuk Ketahui Jati Diri Beserta Kaitannya dengan Pancasila

 

InNalar.com – Soeharto ungkap siapa saja yang mengetahui aksara jawa bisa mengetahui jati diri.

Untuk mengetahui jati diri cukup dengan mengetahui huruf jawa kita.

Hal tersebut merupakan salah satu ilmu yang didapat dari nenek moyang.

Baca Juga: Berkuasa Selama 32 Tahun, Ternyata Soeharto Pernah Bekerja di Bank Desa, Simak Kisah Lengkapnya!

Ilmu tersebut bertujuan untuk menjabarkan mengenai apa itu Pancasila, ekaprasetia pancakarsa.

Ekaprasetia pancakarsa sendiri merupakan janji atau tekad untuk melaksanakan kehendak dalam 5 sila Pancasila.

Pada aksara jawa memiliki 20 aksara, yang meliputi ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, da, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga.

Baca Juga: Soeharto Ternyata Pernah Menolak Perintah Soekarno yang Saat Itu Menjabat sebagai Presiden, Tentang Apa?

Dari ke dua puluh aksara tersebut ternyata merupakan gambaran dari nenek moyang yang berusaha menjelaskan hal-hal kepada kita.

Sesuai dengan aksara, nenek moyang mengajarkan kepada kita mengenai dari mana manusia berasal dan akan kemana dia kembali selama di dunia.

Artinya, “manusia diciptakan Tuhan dari tanah, air” ujar Soeharto dalam unggahan youtube @Presiden files.

Baca Juga: Jalankan Program Transmigrasi, Soeharto: Rencana Pemindahan Penduduk Tidak Hanya Memindah Warga, Tapi…

Seiring berjalannya waktu, manusia setelah diberikan panca indera, serta sifat dari Tuhan yang tidak salah.

Sifat yang diberikan yaitu 2 sifat yang bertentangan, baik dan buruk. Maksud diberikan sifat ini nanti akan bagaimana manusia itu berpikir dan melakukan sesuatu.

Soeharto juga mengungkapkan, “Selama sukma masih ada dalam diri manusia, manusia itu akan diuji dengan sifat yang bertentangan tadi”.

Manusia dilahirkan secara individu, namun dalam kehidupannya manusia tidak bisa hidup sendirian.

Jadi tidak adil ketika orang mementingkan dirinya sendiri, karena sebagian dari hidup juga bergantung kepada orang lain.

Dari individu individu tersebut tadi harus menjadi satu agar tujuan bersama dapat serasi.

Menyatukan antara individu dengan sebagai mahkluk sosial.

Hal tersebut yang merupakan kunci dari penghayatan dan pengamalan Pancasila.

Soeharto juga menambahkan jika ada ilmu peninggalan dari nenek moyang “sangkan paran dumadi”

Berarti adalah ilmu kebatinan dengan maksud mendekatkan diri kepada Tuhan.***

Rekomendasi