Memilukan! Seorang Jurnalis Gaza Tewas Usai Coba Lindungi Istri dan Putrinya dari Serangan Udara Israel di…

inNalar.com – Roshdi Sarraj merupakan seorang jurnalis yang tewas akibat bombardir serangan udara Israel.

Ia menjadi korban saat berusaha melindungi istri dan putrinya dari serangan udara Israel di dekat rumah mereka.

Roshdi Sarraj merupakan jurnalis yang terbunuh pada Minggu (22/10/23) lalu.

Baca Juga: Korban Tewas di Gaza Capai Lebih 5.700, Israel Diyakini Gunakan Senjata Baru Mematikan dalam Melawan Palestina

Pada hari itu, Israel mengerahkan serangan udaranya di kawasan Tel Al-Hawa di Kota Gaza.

Hal ini menyebabkan seorang jurnalis tersebut tewas yang termasuk dari salah satu banyaknya korban lainnya di Jalur Gaza.

Serangan udara Israel ini sendiri mengakibatkan sekitar 32 orang tewas.

Baca Juga: Badan PBB Akan Hentikan Operasi di Gaza Kecuali Bahan Bakar Dikirimkan, Israel: Minta Bahan Bakar kepada Hamas

Sebelumnya, apartemennya yang dihuni telah rusak sehingga ia memutuskan untuk membawa keluarganya ke Tel Al-Hawa.

Melansir dari Al-Jazeera, ayahnya mengungkapkan bahwa Israel tidak henti-hentinya memborbardir kawasan mereka.

Roshdi Sarraj sendiri berusaha untuk melindungi istri dan putrinya yang masih berusia 1 tahun saat serangan udara terjadi.

Baca Juga: Hamas Bebaskan Tawanan Israel, Seorang Wanita Lanjut Usia Bernama Yocheved Lifschitz, Begini Kesaksiannya

Akibat serangan tersebut, rumah keluarganya menjadi rusak parah.

Adapun 10 anggota keluarganya selamat kecuali sang jurnalis tersebut akibat terkena pecahan peluru.

Sebenarnya, ia sudah dibawa ke rumah sakit terdekat sebelum dinyatakan meninggal.

Ali Jadilah, seorang jurnalis Palestina memberitakan berita kematian rekannya ini melalui akun Instagram pribadinya.

Roshdi Sarraj sendiri menjadi jurnalis ke-23 yang telah terbunuh dalam konflik Israel-Gaza.

Ia menganggap bahwa pekerjaannya sangat penting dilakukan dalam seumur hidupnya agar bisa menyampaikan realitas yang terjadi di Gaza.

Padahal, ia seharusnya segera pergi ke Qatar untuk melakukan perjalanan kerja.

Sayangnya, saat agresi Israel dimulai ia lebih memilih untuk kembali ke Gaza.

Tidak hanya menjadi seorang jurnalis, ia juga kerap terlibat dalam menggali orang-orang yang tertimpa reruntuhan bangunan memakai tangan kosong.

Karir jurnalisnya sendiri ia lakukan sejak tahun 2012 lalu kemudian ikut mendirikan perusahaan media swasta di Palestina.***

 

Rekomendasi