Melebihi 30.000 Kali Ledakan Hiroshima, Inilah Gunung Selat Sunda yang Buat Suhu Dunia Dingin 2 Tahun

inNalar.com – Memiliki banyak gunung berapi, maka Indonesia memiliki julukan lain sebagai negara cincin api.

Bagaimana tidak, Indonesia sendiri diketahui memiliki gunung berapi yang aktif sebanyak 127 gunung.

Diceritakan jika gunung Toba merupakan letusan gunung berapi terbesar di dunia, meskipun hal itu tidak ada bukti catatan yang menyertainya.

Baca Juga: 5 Hewan Langka yang Dilindungi di Taman Nasional Ujung Kulon, Apakah Badak Jawa Termasuk Juga?

Sedangkan yang memiliki catatan dan dikatakan terbesar justru gunung Krakatau, yang berada di Selat Sunda.

Disebut capai hingga melebihi 30.000 kali ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, itulah ledakan dari gunung Krakatau.

Pada Guinness World Record, gunung Krakatau tercatat sebagai letusan terkuat sepanjang sejarah dengan capai level 6 skala Volcanic Explosivity Index (VEI).

Baca Juga: Siap Beroperasi Akhir 2023, Bandara Baru di Kediri Jawa Timur Ini Telan Dana Investasi Rp10,8 Triliun?

Adapun letusan dari Gunung Krakatau di Selat Sunda itu terjadi di tanggal 26 Agustus 1883.

Meskipun tidak dijelaskan membuat populasi manusia menurun drastis seperti ledakan gunung Toba, namun tetap saja ledakan gunung Krakatau tetap masuk kategori menyeramkan.

Hanya saja, kala itu orang-orang mengira jika 26 Agustus 1883 merupakan hari kiamat.

Baca Juga: Keliling Pulau Hanya 30 Menit? Luas Pulau Mungil di Jawa Timur Ini Lebih Kecil dari Pakuwon Mall Surabaya

Pasalnya, saat itu atmosfer Bumi tertutup selama 2 hari, dikarenakan abu vulkanik dari letusan gunung Krakatau.

Sedangkan di tahun itu belum terdapat satelit, yang dapat difungsikan untuk memantau bumi darti atas langit.

Ditambah lagi berdasarkan penjelasan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, terdengar Suara keras dan menakutkan dari arah Pulau Krakatau.

Bahkan suara menakutkan layaknya erangan dari bumi tersebut terdengar sampai 4800 km jauhnya.

Dijelaskan jika Suara tersebut terdengar hingga Pulau Rodriguez, Mauridiu Samudra Hindia.

Selama letusan terjadi, gunung Krakatau diketahui sampai mengeluarkan jutaan ton debu, batu, serta magma yang menyertainya.

Dengan itu, membuat material-materialnya hingga menutupi wilayah seluas 827.000 km².

Tidak berhenti disitu, di hari kedua letusan Krakatau masih terjadi tambahan lagi berupa tsunami yang ikut membawa material vulkanik.

Berdasarkan penjelasan BNPB, tsunami yang terjadi saat ledakan gunung Krakatau tahun 1883 memiliki ketinggian hingga 41 meter pada wilayah Merak, dan 2,6 meter di daerah Batavia.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, atomesfatmosfer bumi saat itu tertutup selama kurang lebih 2 hari lamanya.

Hal tersebut mengakibatkan bumi mengalami penurunan suhu sampai iklim berubah secara drastis, ditambah mengubah musim dingin menjadi lebih panjang dibandingkan musim panas.

Selama langit tertutupi oleh abu vulkanik, ada pula akibat dalam turunnya curah hujan.

Bahkan jika terjadi hujan, Air yang turunpun juga membawa debu vulkanik, sehingga air tersebut tidak layak digunakan untuk minum.

Ditambah lagi membuat bulan menjadi terlihat berwarna kebiru-biruan, dan matahari yang terbit nampak kehijau-hijauan.

Dan Keadaan seperti yang dijelaskan diatas berlangsung selama kurang lebih 2 tahun lamanya.***

Rekomendasi