

InNalar.com – Saat ini terdapat megaproyek yang tengah dikerjakan di daerah Maluku Utara.
Megaproyek tersebut adalah pengembangan bandara yang terdapat di Kota Ternate.
Menariknya, terdapat isu yang menyebutkan jika pengembangan pada bandar udara itu menggunakan barang bekas.
Ditambah lagi, ternyata pengerjaannya juga molor tidak sesuai target yang diharapkan.
Sebab waktu pelaksanaan dari proyek ini yaitu selama 270 hari sejak 20 Maret 2023.
Jika begitu, maka seharusnya megaproyek ini akan rampung pada 14 Desember 2023.
Namun saat tanggal 13 Desember, ternyata progres pembangunan bandar udara tersebut baru selesai 80%.
Tidak hanya itu, ternyata ada dugaan yang muncul jika pengembangan pada lapangan terbang tersebut menggunakan barang bekas.
Dugaan itu muncul saat terdapat awak media yang ingin meliput ketika Hari Nusantara yang terjadi di Kota Tidore.
Sebab Ditemukan keanehan seperti bahan bangunan yang sudah penyok dan masih ada pula kerusakan yang lain.
Ada pula pemasangan plafon yang tidak simetris, sehingga nampak penyok dan bengkok.
Apalagi proyek pengerjaan bandara ini juga dinilai tidak sesuai dengan K3 (kesehatan keselamatan kerja).
Padahal K3 merupakan sesuatu yang cukup penting bagi para pegawai, karena bisa menghindarkan dari kecelakaan kerja yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Maka dari itulah membuat munculnya dugaan jika megaproyek pengembangan bandar udara ini menggunakan barang bekas.
Selain itu ada pula faktor lain yang membuat banyak orang kecewa akan proyek pengembangan bandar udara ini.
Karena bandar udara ini juga jadi pintu gerbang sekaligus wajah dari kota Ternate. Maka tak heran jika akan membuat banyak orang kecewa.
Adapun bandar udara yang dimaksud ini adalah Bandara Internasional Sultan Babullah yang tengah dikembangkan dengan anggaran hingga puluhan miliar.
Dilansir InNalar.com dari laman Stekom, Sultan Babullah merupakan seorang prajurit asli Indonesia yang berasal dari Ternate.
Sementara itu, anggaran yang dikeluarkan dalam mengembangkan bandar udara ini yaitu sebesar Rp45 miliar.
Tentu pengembangan yang menghabiskan anggaran hingga puluhan miliar ini tidaklah sesuai ekspektasi yang diharapkan.
Sebenarnya pengembangan yang dilakukan pada bandar udara di daerah Maluku Utara ini sudah dilakukan lebih dari sekali.
Berdasarkan sejarahnya, pada tahun 1971 lapangan terbang ini sudah beroperasi walau hanya untuk kepentingan militer.
Namun sejak 1978, lapangan terbang ini dibuka untuk sipil.
Sedangkan untuk pengembangan pertamanya, bandar udara ini mengalami hal tersebut pada tahun 2005 untuk membangun terminal penumpang.
Berlanjut pada tahun 2013 bandar udara ini juga mengalami hal yang serupa agar memiliki kapasitas yang lebih banyak.
Sementara itu, megaproyek bermasalah yang diduga menggunakan barang bekas kali ini merupakan renovasi terminal yang sudah dibangun pada tahun 2013 yang lalu.
Padahal sebenarnya Terminal penumpang ini juga sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap.
Karena terdapat fasilitas seperti toko bebas bea, VIP restoran, Lounge, hingga bank. ***