

inNalar.com – Dalam hal penemuan manusia purba, Indonesia menempati posisi yang penting. Sebab fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia berasal dari semua kala Pleistosen, sehingga nampak jelas perkembangan fisik manusia tersebut.
Penelitian ilmiah tentang fosil manusia purba (paleoantropologi) baru dimulai pada akhir abad ke-19. Penelitian paleoantropologi dimulai oleh Eugene Dubois, ia menduga bahwa manusia purba hidup di daerah tropik.
Fosil manusia paling primitif yang pernah ditemukan di Indonesia adalah Megantrophus palaeojavanicus atau “Manusia Raksasa dari Pulau Jawa”.
Baca Juga: Kumpulan Link Twibbon Ramadhan 2022 atau 1443 H, Cocok Dibagikan untuk Menyambut Bulan Suci
Fosil tersebut pertama kali ditemukan oleh peneliti kelahiran Jerman-Belanda, Gustav Heinrich Ralph von Koeningswald di formasi pucangan Sangiran, Jawa Tengah pada 1941.
Meganthropus paleojavanicus dianggap sebagai genus yang hidup pada kala plestosen bawah atau kira-kira 2.588.000 tahun yang lalu, dan merupakan pendahulu dari Pithecanthropus erectus dari kala plestosen tengah.
Karena temuan Meganthropus hanya sedikit, sulit menentukan dengan pasti kedudukannya dalam evolusi manusia dan hubungannya dengan Pithecanthropus.
Baca Juga: Cak Nun Berpendapat Indonesia Tak Butuh Sertifikasi Halal
Temuan Meganthropus yang pertama (S1a) adalah fragmen rahang atas kiri dengan geraham kedua dan ketiga, serta sebagian geraham pertama.
Selain itu, ditemukan rahang bawah (S8), rahang bawah Meganthropus mempunyai batang yang sangat tegap dan geraham yang besar.
Meganthropus sendiri memiliki karakteristik : a) Berbadan tegap dengan tonjolan tajam di belakang kepala; b) Bertulang pipi tebal; c) Tonjolan kening yang mencolok; d) Tidak berdagu ; e) Otot kunyah, gigi, dan rahang besar dan kuat; f) Makanannya jenis tumbuh-tumbuhan.
Baca Juga: Doni Salmanan Minta Maaf, Berharap Mendapat Keringanan Hukuman
Meganthropus hidup dengan cara mengumpulkan makanan (food gathering), karena makanan utamanya adalah tumbuhan dan buah.
Prof. Dr. Teuku Jacob berpendapat bahwa Meganthropus sebenarnya adalah Pithecantrhropus dengan badan yang besar.
Ketika penggalian Meganthropus paleojavanicus pada tahun 1934-1941 ditemukan juga kerangka fauna seperti jenis Bos (Bibos) palaesondaicus, Bos(Bubalus) palaeokerabau, Axis lydekkeri, Muntiacus muntjak, dan Duboisa Santeng.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi