Masih dalam Proses Lelang, Megaproyek Tol Sepanjang 96,84 Km di Bali Ini Sempat Diprotes Warga, Apa Masalahnya?

inNalar.com – Bali merupakan salah satu pulau wisata yang sangat populer bagi masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

Tak heran bila infrastruktur di Bali terbilang cukup lengkap.

Namun, untuk mempermudah akses dan efisiensi perjalanan ke lokasi wisata, pulau ini masih membutuhkan tambahan ruas tol.

Baca Juga: Bali Paling Beda! Akses Jalan Tol Unik Sepanjang 12,7 km Ini Dibuka-Tutup Tergantung Hembusan Angin

Maka dari itu, pemerintah merencanakan pembangunan tol di Bali yang dikenal dengan tol Gilimanuk Mengwi.

Proyek tol Gilimanuk Mengwi merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional.

Kini, proyek tol ini masih dalam tahap proses lelang yang mulai dilaksanakan pada bulan Maret lalu.

Baca Juga: Cuma di Desa Pelosok Gresik Ini, Megaproyek Jalan Tol di Jawa Timur Rp9,12 Triliun Dibikin Melipir: ‘Kartu As’ Runtuh

Jika proses lelang selesai, maka Kementerian PUPR yakin pemenang lelang Tol Gilimanuk Mengwi akan melakukan penandatanganan perjanjian jalan tol pada September 2024.

Nantinya, proyek tol di pulau dewata ini akan membentang sepanjang 96,84 km.

Dengan panjang tersebut, tol Gilimanuk Mengwi digadang-gadang menjadi ruas tol terpanjang di Bali.

Baca Juga: Tak Kunjung Dibangun, Bakal Tol Terpanjang RI Senilai Rp58 Triliun di Jawa Barat dan Jawa Tengah Ini Malah Kena Skandal Dugaan Pungli

Seperti proyek tol lainnya, proyek ini juga tak lepas dari berbagai kendala.

Pada bulan Januari lalu, proyek ini mendapat protes dari warga terdampak proyek.

Warga terdampak proyek menggelar aksi damai di Jalan Antosari Pupuan, Kabupaten Tabahan.

Baca Juga: Diresmikan pada Tahun 2019, Jalan tol di Kalimantan Timur Ini Pernah Kehilangan Pendapatan Sebesar Rp175 Juta dalam Tiga Hari, Kenapa?

Di sana, warga mengenakan pakaian adat Bali dan menuntut kejelasan proyek tol tersebut.

Mereka mendesak pemerintah untuk segera memutuskan pembayaran uang pengganti atas lahan warga yang terdampak oleh proyek ini.

Sebelumnya, beberapa warga dari Kabupaen Jembrana, Tabanan, dan Badung telah beberapa kali mempertanyakan kelangsungan proyek tol ini.

Hal tersebut dikarenakan proyek ini masih abu-abu dan bisa dibilang mangkrak.***

Rekomendasi