

inNalar.com – Pelabuhan Sorong di Papua dibidik oleh Pemerintah RI untuk menjadi salah satu terminal laut strategis di kawasan Indonesia Timur.
Sebagaimana keluar masuk barang ke Indonesia diatur sedemikian rupa. Terbaru, pelabuhan strategisnya Papua ini digadang menjadi pintu masuk baru bagi aktivitas impor.
Keputusan ini diambil oleh pemerintah sebagai bagian dari kebijakan baru dalam distribusi dan logistik nasional.
Pelabuhan Sorong bersama dengan sejumlah terminal laut lainnya seperti di Bitung, Sulawesi Utara, dan Kupang, Nusa Tenggara Timur, diharapkan dapat mempermudah distribusi barang.
Produk impor yang akan diprioritaskan adalah barang elektronik, tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, keramik, pakaian jadi, katup, dan obat tradional.
Alasan di balik pemilihan barang tersebut dikarenakan mudahnya serbuan barang impor yang ilegal. Diharapkan dengan pemindahan tersebut dapat mengurangi.
Kebijakan ini adalah langkah signifikan yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian.
Fokus utama adalah untuk mengembangkan infrastruktur di wilayah Indonesia Timur sekaligus menyeimbangkan beban distribusi nasional.
Pemerintah berupaya untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang dan menciptakan konektivitas yang lebih baik untuk seluruh wilayah Indonesia.
Terutama Papua dan Maluku yang kerap mengalami keterbatasan pasokan dan logistik.
Dalam pembangunan Pelabuhan Sorong, dana yang digelontorkan senilai Rp3 triliun yang digarap oleh PT Pelindo II. Pada tahun 2021, terminal laut ini telah resmi menjadi pelabuhan peti kemas.
Dengan investasi tersebut, berbagai infrastruktur penunjang seperti dermaga kontainer dan sistem logistik diperkuat agar terminal laut di kawasan Indonesia Timur ini siap melayani aktivitas ekspor-impor yang lebih besar.
Proyek pembangunan Pelabuhan Sorong Papua sudah dimulai sejak 2015. Oleh karena itu, gerbang laut ini telah mengalami berbagai pengembangan dan modernisasi agar mampu menampung lalu lintas barang yang lebih tinggi.
Pembangunan ini mencakup pengadaan fasilitas peti kemas, serta pembaruan infrastruktur untuk mendukung efektivitas layanan bongkar-muat.
Langkah ini diambil mengingat pentingnya Papua dalam jaringan perdagangan nasional dan harapan agar wilayah ini dapat berkembang lebih cepat dengan adanya akses yang lebih efisien terhadap barang-barang impor.
Dengan menjadi salah satu pintu masuk utama, Pelabuhan Sorong diharapkan juga bisa membuka peluang baru bagi perekonomian lokal, meningkatkan lapangan kerja, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi di Papua.
Lokasi Pelabuhan Sorong yang strategis menjadi salah satu alasan pemilihannya.
Letak terminal laut ini memudahkan jalur distribusi ke berbagai daerah di Indonesia Timur, seperti Papua, Maluku, dan sebagian Sulawesi.
Dengan posisi yang lebih dekat dengan beberapa negara asal impor, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, waktu dan biaya transportasi pun dapat ditekan.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada Pelabuhan Tanjung Priok, yang selama ini menjadi gerbang laut utama bagi hampir seluruh barang impor di Indonesia.
Pengalihan pusat distribusi ini diharapkan dapat memperlancar arus barang ke wilayah timur yang selama ini kerap mengalami kendala logistik.
Kebijakan ini diyakini akan berdampak positif, terutama bagi masyarakat di wilayah timur yang selama ini sering menghadapi tantangan dalam mendapatkan kebutuhan industri dan konsumsi.
Melalui pengembangan Pelabuhan Sorong, pemerintah berharap Papua dan wilayah sekitarnya dapat merasakan manfaat dari pembangunan yang merata.
Dengan dukungan infrastruktur yang kuat dan sistem distribusi yang efisien, Pelabuhan Sorong akan menjadi salah satu pintu gerbang utama Indonesia untuk barang impor.***(Muhammad Arif)