

InNalar.com – Jawa Timur saat ini tengah dalam pembangunan smelter terbesar yang merupakan milik PT Freeport Indonesia.
PT Freeport sendiri merupakan perusahaan yang salah satunya mengelola smelter tambang tembaga yang ada di daerah Mimika, Papua Tengah.
Berdasarkan hal tersebut, Majelis Rakyat Papua (MRP) hendak mengirimkan surat pada pemerintah pusat agar terdapat kebijakan untuk orang asli Papua dapat bekerja di smelter pengolahan mineral tersebut.
Perlu diperhatikan, tentu selama pertambangan dilakukan, maka orang yang paling akan terkena dampaknya adalah warga lokal sekitar tambang.
Hal itulah yang terjadi pada pertambangan smelter di daerah Papua Tengah tersebut.
Sebab, sebelumnya diketahui jika saat pertambangan di daerah Mimika terjadi, terdapat masyarakat suku Amungme yang harus rela meninggalkan tanah adat mereka.
Selain meninggalkan tanah adat mereka, ada pula kerusakan lahan lain yang cukup memberikan dampak smelter bagi para masyarakat suku Amungme.
Hal ini berkaitan dengan limbah yang dihasilkan dari proses penambangan emas dan tembaga, namun kotoran ini justru dialirkan ke Sungai Aghawagon.
Tentu tak heran jika MRP menginginkan jika pemerintah pusat dapat memberikan kebijakan agar orang Papua asli dapat bekerja di smelter milik PT Freeport tersebut.
Dilansir InNalar.com dari mrp.papua.go.id, diketahui jika pabrik pengolahan tembaga di daerah Jawa Timur ini nantinya akan mempekerjakan hingga 40 ribu karyawan.
Berdasarkan hal di atas, dengan begitu MRP menginginkan kebijakan jika pemerintah dapat mengalokasikan hingga 50% agar warga Papua asli ini dapat bekerja di smelter.
Jadi pembagian pegawai smelter tersebut adalah 20 ribu untuk orang Papua, dan 20 ribu untuk orang di luar Papua.
Adapun alasan dari MRP mengajukan hal seperti ini, tindakan ini berkaitan dengan dimana pemerintah Papua menginginkan jika smelter ini dibangun di daerah Papua.
Sekedar informasi, pabrik pengolahan tembaga di Jawa Timur ini diclaim merupakan smelter single line terbesar di dunia.
Sebab, pabrik pengolahan mineral ini diperkirakan mampu menyerap konsentrat tembaga mencapai 1,7 juta ton per tahun.
Dari produk katoda tembaga yang dihasilkan ini juga nantinya dapat mencapai 600.000 ton per tahun.
Tidak berhenti disitu, karena pabrik ini juga masih dapat mengolah produk sampingan lain seperti emas dan perak murni sebanyak 6.000 ton per tahun.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi