

inNalar.com – Mendengar kata Machu Picchu, pasti yang terpikirkan di benak adalah reruntuhan yang berada di Peru.
Siapa sangka, Indonesia juga memiliki ‘Machu Picchu’-nya sendiri, yaitu sebuah desa misterius dengan letaknya yang terpencil di ketinggian 1.200 meter.
Tengah tersembunyi di atas awan, di pegunungan Flores, terdapat sebuah desa bernama Waerebo yang menjadi destinasi wisata wajib di Kabupaten Manggarai, NTT.
Baca Juga: Padahal Kekayaan Alam Melimpah, Daerah di Kalimantan Timur Ini Masih Memiliki Banyak Penduduk Miskin
Desa ini telah mempertahankan kebudayaan dan tradisi nenek moyang mereka selama berabad-abad, membuatnya mendapatkan gelas warisan budaya dari UNESCO di tahun 2012.
Dilansir dari kanal YouTube @ArsalBahtiar, Desa Waerebo hanya memiliki 7 rumah adat kerucut dan dibangun melingkar.
Rumah-rumah ini terbuat dari bambu, jerami, dan rotan, yang dirangkai dengan cermat untuk menciptakan struktur kokoh dan kuat.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Universitas Andalas, Apa Benar Asal Usul Namanya dari Sebuah Tanaman Langka?
Di dalam rumah-rumah tersebut, tinggal 44 keluarga yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani.
Keunikan dan daya tarik Waerebo terletak pada bentuk rumah adatnya yang khas, yaitu rumah kerucut (Mbaru Niang). Bentuk rumah tersebut berfungsi sebagai penghangat ruangan saat cuaca dingin.
Selain keunikan rumahnya, masyarakat Waerebo masih mempertahankan tradisi memasak dengan menggunakan kayu bakar.
Asapnya tidak hanya berfungsi untuk memasak, tetapi juga untuk menghangatkan badan setelah pulang dari kebun atau kegiatan di luar.
Di atas gunung, mereka menanam kopi, cengkeh, serta umbi-umbian agar dapat menghidupi kebutuhan mereka.
Masyarakat di sini memiliki kewajiban untuk saling berbagi pekerjaan, seperti para wanita yang memasak dan mengasuh anak namun ikut membantu kaum pria berkebun.
Untuk mendapatkan air bersih, penduduk di Desa Waerebo mengambil air dari mata air pegunungan.
Pengunjung bisa kemari melalui Labuan Bajo dengan waktu perjalanan sekitar 4 hingga 5 jam.
Sebagai tempat wisata, desa ini tentunya menyediakan homestay dengan harga 325 ribu Rupiah.
Harga tersebut sudah masuk dalam tarif welcome tea, sarapan, makan malam, hingga tempat tidur.
Wisatawan yang ke desa ini akan merasakan suasana pagi tidak biasa di Waerebo dengan kabut tebal yang membuat udara segar dan sejuk.
Pengalaman yang unik dan keramahan masyarakat setempat membuat kunjungan ke Waerebo menjadi tak terlupakan.***