

inNalar.com – Aktivitas tambang emas milik PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang bernama Tujuh Bukit akan berakhir pada tahun 2026 mendatang.
Sebelumnya, PT Merdeka Copper Gold Tbk yang memiliki kode saham MDKA telah mengoperasikan Tambang Emas Tujuh Bukti melalui anak perusahaannya, yakni PT Bumi Suksesindo (BSI).
Dilansir dari laman perusahaan merdekacoppergold, PT BSI telah mengoperasian pertambangan ini berdasarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Oeprasi dan Produksi yang dimiliki sejak tahun 2012.
Luas lahan pertambangan yang diperoleh oleh PT BSI menurut IUP tersebut adalah 4.998 hektare.
Namun, perusahaan ini hanya menggunakan 992 hektare saja dari seluruh total area yang dapat digunakan sebagai area pertambangan.
Pertambangan milik PT BSI ini dibangun pada tahun 2014 dan mulai menambang bijih pertamanya pada tahun 2017 dan terus berkembang hingga menjadi salah satu pertambangan logam mulia primer di Indonesia.
Menariknya, pada tahun 2016, Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur ini ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional atas kualitas sumber daya mineralnya yang diakui negara sebagai aset strategis.
Namun, selayaknya pertambangan mineral pada umumnya, pertambangan yang dikelola oleh PT BSI ini juga akan menemui masa akhirnya.
Hingga Juni 2023 lalu, pertambangan logam mulia ini sudah mencatatkan hasil produksi mencapai 1 juta ouces.
Sedangkan, realisasi produksi per Agustus 2023 lalu sudah mencapai 96.000 ounces dari target 139 ounces.
Keberlangsungan produksi dari Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur ini akan berakhir pada tahun 2026 mendatang.
Sebelum masa produksinya berakhir, tambang emas yang dikelola oleh PT BSI ini menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar bagi Banyuwangi, Jawa Timur.
Langkah Selanjutnya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Setelah produksi di Tambang Emas Tujuh Bukit yang merupakan open pit selesai, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) akan beralih fokus ke tambang bawah tanah yang masih ada di satu lokasi yang sama.
Berbeda dengan pertambangan terbuka di atasnya, tambang bawah tanah yang akan yang ditargetkan mulai produksi tahun 2027 ini memiliki cadangan mineral yang berbeda.
Baca Juga: Telan Dana Rp310 Miliar, Smelter Pertama di Kalimantan Tengah Ini Dipasok Listrik PLN 39 MVA
Tambang bawah tanah ini memiliki lebih banyak mineral jenis tembaga dan sebagian emas.
Dari pertambangan bawah tanah ini, diperkirakan perusahaan akan memproses 24 juta ton bijih per tahun yang menghasilkan 110.000 ton tembaga dan 350.000 ounces emas per tahun selama 30 tahun.***