Luasnya 49,2 Hektar! Bendungan di Provinsi Lampung Ini Dianggap Destinasi Wisata yang Rawan, Kenapa?

inNalar.com – Bendungan merupakan salah satu fasilitas di suatu daerah yang sangat penting keberadaannya.

Di Provinsi Lampung sendiri terdapat belasan hingga puluhan bendungan yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dan irigasi.

Salah satunya berada di Kabupaten Lampung Utara dan menjadi yang terbesar di sana.

Baca Juga: 23 Km dari Yogyakarta, Pasar Tradisional di Surakarta Ini Namanya Berasal dari Suara Kereta Api!

Bendungan tersebut bernama bendungan Way Rarem yang mana menjadi bendungan terbesar di Lampung Utara.

Bendungan Way Rarem berlokasi di Desa Kurun, Kecamatan Abung Pekurun, Kabupaten Lampung Utara, Lampung.

Bendungan Way Rarem di resmikan secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia yang menjabat pada saat itu yakni Presiden Soeharto.

Baca Juga: Berdiri 2 Tahun di Tengah Hutan, Warung Kopi di Jombang Jawa Timur Ini Tak Pernah Gagal Datangkan Pengunjung

Bendungan ini dibangun oleh pemerintah Kabupaten Lampung Utara yang di secara resmi di buka pada Juli 1984.

Bendungan Way Rarem dimanfaatkan untuk mengaliri seluas 22.000 hektar di daerah sekitar Kabupaten Lampung Utara.

Bendungan ini memiliki luas sekitar 49,2 hektar dengan tinggi mencapai 59 meter.

Baca Juga: Jadi Pusat Oleh-oleh Legendaris di Semarang, Pasar Tradisional Ini Pernah Jadi yang Terbesar se-Asia Tenggara?

Tak ayal jika Bendungan Way Rarem merupakan bendungan yang terbesar di Kabupaten Lampung Utara.

Tak hanya dimanfaatkan sebagai irigasi dan pembangkit listrik, Bendungan Way Rarem menjadi salah satu objek wisata di Lampung Utara.

Namun, sayangnya Bendungan Way Rarem ini disebut-sebut termasuk ke dalam destinasi wisata yang kurang aman. Kenapa?

Meskipun bendungan ini miliki pemerintah, tapi sayangnya pemerintah seakan tidak memedulikan keamanan dari Bendungan ini. Banyak isu miring beredar di kalangan masyarakat bahwa terdapat beberapa geng preman yang meresahkan setiap orang.

Bahkan, ada beberapa orang yang terkenal palak oleh para preman tersebut hingga motornya dirampas. Tapi, banyak pula wisatawan yang mengaku tidak pernah menjumpai geng preman tersebut.

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian pemerintah agar isu ini tidak menjadikan masyarakat enggan mengunjungi bendungan ini.***

Rekomendasi