

inNalar.com – Bandara merupakan salah satu fasilitas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.
Bandara internasional di Indonesia ini jumlahnya cukup banyak dan lokasinya tersebar di berbagai daerah.
Sebagai contohnya adalah Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di provinsi yang terletak ujung pulau Sumatera.
Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda terletak di Jl. Bandara Sultan Iskandar Muda, Kec. Blang Bintang, Kab. Aceh Besar, Aceh.
Negara Indonesia sebagai negara kepulauan membuat bandara menjadi salah satu fasilitas yang sangat penting.
Selain untuk melayani penerbangan dalam negeri, bandara juga bisa melayani perjalanan luar negeri.
Bandara yang melayani perjalanan ke luar negeri sering disebut sebagai bandara internasional.
Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda ini awalnya dibangun oleh Pemerintah Jepang pada tahun 1943.
Pada waktu itu, bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 1.400 meter dan lebar sekitar 30 meter.
Namun, setelah kekalahan Jepang, bandara ini ditutup dan tidak ada aktivitas lagi.
Kemudian, pada tahun 1953, bandara ini dibuka kembali dan dikenal sebagai Bandara Blang Bintang.
Pada Mei 1995, terjadi perubahan nama dari Blang Bintang menjadi Sultan Iskandar Muda.
Baca Juga: Kena Hack, Akun YouTube DPR RI Tampilkan Streaming Judi Online Berjam-jam: Apa Kabar Kominfo?
Nama Sultan Iskandar Muda diambil dari nama salah satu pahlawan nasional dari Aceh.
Bandara ini sempat rusak parah akibat dihantam tsunami pada tahun 2004.
Oleh karena itu, bandara ini dibangun kembali pada tahun 2007 dan diresmikan pada tahun 2009.
Peresmian itu dilakukan oleh Presiden Indonesia keenam, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pembangunan ini dilakukan oleh PT Angkasa Pura II dengan desain arsitektur perpaduan dari islam-modern di bagian luar dan elemen estetik ornamen Aceh di bagian dalam.
Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan kembali ini adalah sekitar Rp 603 miliar.
Jumlah tersebut merupakan total dana dari dua sumber.
Yang pertama adalah dana investasi sebesar Rp 125 miliar.
Dan yang kedua adalah dana dari Badan Rekonstruksi dan Rehabilitas (BRR) sebanyak Rp 487 miliar.
Bandara ini memiliki luas area sekitar 230 hektar yang menjadikannya sebagai bandara terbesar di Aceh.***