Luasnya 1,5 Hektar, Hutan di Tengah Kota Kaltim Ini Dibuat oleh Seorang Kakek dengan Modal 100 Ribu, Kok Bisa?

inNalar.com – Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang terbentuk secara alami dengan keanekaragaman hayati di dalamnya.

Selain dihuni oleh banyak pohon besar, hutan juga menjadi tempat tinggal bagi berbagai fauna dari yang umum hingga langka.

Namun, hutan juga bisa dibuat oleh manusia dengan cara melakukan penanaman ulang dan merawatnya sedemikian rupa agar menjadi lebat.

Baca Juga: Dibayangi Kemiskinan, Tak Disangka Daerah ini Jadi Penghasil Kelapa Terbesar di Sulawesi Utara, Apakah Kotamu?

Meski membutuhkan waktu bertahun-tahun, hutan buatan bukan merupakan hal yang mustahil jika dilakukan bersama-sama.

Uniknya, hutan buatan di Kalimantan Timur ini malah dibuat sendirian oleh seorang kakek dengan modal 100 ribu Rupiah.

Dilansir inNalar.com dari berbagai sumber, hutan tersebut bernama Agroforestri yang berlokasi di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Baca Juga: 30 Km dari Tangerang, Ternyata Indonesia Punya Gedung Badminton Terbaik di Dunia? Anggarannya 132 Miliar

Dengan luas mencapai 1,5 hektar, hutan ini dibangun di tengah-tengah kota oleh seorang kakek dan istrinya sejak tahun 1986.

Hal ini berawal saat sang kakek datang ke Kalimantan Timur untuk merantau pada tahun 1971 dan ikut andil dalam membangun asrama.

Namun, saat dirinya melihat hutan ditebangi tanpa sisa dalam kegiatannya menebang kayu sebagai bisnis, timbullah rasa untuk melakukan reboisasi.

Baca Juga: Jembatan Gantung Senilai Rp 4 Miliar Bakal Terbentang Indah Sepanjang 80 Meter di Ponorogo, Jawa Timur!

Berawal menjadi petani buruh, sang kakek mencoba untuk membeli sebidang tanah dengan harga 100.000 Rupiah pada tahun 1979.

Dirinya mulai menggunakan konsep Agroforestri, yaitu cara bercocok tanam yang menggabungkan berbagai jenis pohon dan tanaman untuk hasil panen yang lebih baik.

Pembangunan hutan buatan ini berhasil menarik peneliti dalam negeri hingga universitas dari 20 negara lain.

Bahkan, dirinya sempat mendapat tawaran oleh seorang investor agar menjual hutan ini seharga 10 miliar.

Akan tetapi, dirinya menolak karena ingin mempertahankan jerih payahnya yang membangun hutan selama 30 tahun tersebut.

Pengalaman ini pun menjadi pembelajaran bagi masyarakat sekitar untuk merawat dan melestarikan lingkungan hijau.***

Rekomendasi