Luas Bagian 246,61 km², Pulau di Kalimantan Utara Ini Jadi Pulau Terluar dan Dikuasai oleh 2 Negara, Kok Bisa?

inNalar.com – Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau.

Salah satu pulau tersebut berada di Provinsi Kalimantan Utara yang mana menjadi salah satu pulau terluar di Indonesia.

Pulau terluar di Kalimantan Utara tersebut bernama Pulau Sebatik yang berada di Kabupaten Nunukan.

Baca Juga: Habiskan Dana Rp34 Miliar, Jawa Barat Punya Stadion Internasional dengan Pemandangan Mewah di Garut

Secara administratif, Pulau Sebatik di kuasai oleh 2 negara yakni Indonesia dan Malaysia.

Maka dari itu, wilayah Pulau Sebatik dibagi menjadi dua yakni seluas 246,61 km² masuk ke wilayah Indonesia di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.

Sedangkan, di bagian utara seluas 187,23 km² merupakan wilayah Negara Bagian Sabah, Malaysia.

Baca Juga: Bakal Telan Dana 10 Triliun, Jawa Barat Siap Bangun Patung Setinggi 100 Meter di Kawasan Kota Mandiri

Pulau Sebatik juga merupakan salah satu tempat dimana terjadinya pertempuran hebat antara pasukan Indonesia dan Malaysia saat terjadinya “Konfrontasi”.

Pulau ini memiliki total 72.571 jiwa penduduk dengan 25.000 jiwa penduduk Malaysia dan 47.571 jiwa penduduk Indonesia.

Pemisahan wilayah Sebatik Indonesia dengan Sebatik Malaysia ini sesuai dengan perjanjian Konvensi London 1891.

Baca Juga: Bakal Telan Dana 10 Triliun, Jawa Barat Siap Bangun Patung Setinggi 100 Meter di Kawasan Kota Mandiri

Dalam perjanjian Konvesi London 1891 menyebutkan bahwa semua wilayah Sebatik yang dikuasai oleh Belanda diambil oleh Indonesia, dan semua wilayah Sebatik yang di kuasai oleh Inggris diambil oleh Malaysia.

Mayoritas penduduk dari pulau Sebatik ini berasal dari suku Bugis yang mana hal tersebut berkaitan erat dengan sejarah pulau ini.

Orang pertama yang datang ke Pulau Sebatik adalah Ambo Emmang yang berasal dari Suku Bugis.

Berbicara mengenai sejarah penamaan dari pulau Sebatik ini berangkat dari Tim Ekspedisi Belanda yang pada saat berkuasanya meneliti di Sebatik dan menemukan ular besar sejenis Sanca.

Kemudian, masyarakat sekitar yang mengikuti ekspedisi tersebut menyebut ular tersebut dengan ular “Sawa Batik”.

Pada saat itu pihak Belanda menyebutnya dengan “Sebettik” dan berangsur-angsur berubah penyebutan menjadi “Sebatik”.*** 

Rekomendasi