

inNalar.com – Provinsi Kalimantan Barat, sebagai salah satu bagian dari pulau Kalimantan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan memiliki peran strategis dalam membangun infrastruktur perbatasan yang kuat.
Salah satu proyek penting yang tengah dilaksanakan adalah pembangunan jalan paralel perbatasan dengan Panjang 1.920 Km
Salah satunya pembangunan di Kalimantan Barat yang membentang mulai dari Temajuk hingga Batas Kalimantan Timur sepanjang 827,97 kilometer.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Cafe Murah dan Instagramable di Bandung, Nomer 5 Ada Hidangan Spaghetti Jumbo
Proyek ini merupakan bagian dari program nasional yang dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XX Pontianak.
Pembangunan proyek ini dilakukan dengan dukungan dari Direktorat Zeni TNI Angkatan Darat.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, menjelaskan bahwa pembangunan jalan perbatasan memiliki nilai strategis yang tinggi.
Baca Juga: Wow! Indonesia Ternyata Salah Satu Negara yang Miliki Emas Hijau Terbesar, Apa itu Maksudnya?
Selain berfungsi sebagai sarana transportasi, jalan ini juga memiliki peran dalam pertahanan dan keamanan negara.
Selain itu, pembangunan jalan ini akan membuka daerah terisolir, meningkatkan konektivitas, dan merangsang pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan.
Saat ini, kondisi jalan paralel perbatasan sudah mengalami perkembangan signifikan.
Hingga bulan September 2019, sepanjang 317,05 kilometer (38%) jalan sudah teraspal, 253,29 kilometer (31%) lainnya memiliki lapisan agregat, sementara 257,63 kilometer (31%) masih berupa perkerasan tanah.
Jalan ini memiliki lebar minimal 7 meter, dan ruang milik jalan (Rumija) minimal 25 meter, memastikan infrastruktur yang kuat dan tahan lama.
Direktur Jenderal Bina Marga menegaskan bahwa meskipun jalan sudah bisa dilalui, pengaspalan tetap menjadi prioritas di area yang sudah ada permukiman dan fasilitas umum.
Sementara itu, lapisan agregat akan digunakan pada area yang masih memerlukan peningkatan volume lalu lintas harian.
Kementerian PUPR memang secara bertahap akan membangun jalan paralel perbatasan di Pulau Kalimantan yang panjangnya ditaksir capai 1.920 Km.
Untuk menyelesaikan proyek jalan paralel di Pulau Kalimantan dengan panjang mencapai 1.920 Km, hingga akhir tahun 2024, diperkirakan dibutuhkan anggaran sekitar Rp 4,5 triliun, termasuk pembangunan jembatan.
Rencananya, semua ruas jalan paralel perbatasan akan telah teraspal hingga tahun tersebut.
Dari 12 ruas atau koridor yang ada, empat ruas sudah sepenuhnya teraspal. Ruas-ruas tersebut antara lain Nanga Badau-Lanjak (44,92 km), Lanjak-Mataso (25,72 km), Mataso-Tanjung Kerja (54,85 km), dan Tanjung Kerja-Putussibau (37 km).
Pada tahun 2019, fokus pembangunan ada pada Ruas 1 Temajuk-Aruk sepanjang 61,93 km.
Di tahun tersebut, sudah ada 12 kilometer jalan yang telah teraspal, sementara sisanya masih berupa lapisan agregat sepanjang 49,93 km.
Selain itu, proyek ini juga melibatkan pembangunan 8 jembatan dengan panjang antara 20 hingga 90 meter. Perbaikan juga dilakukan pada 64 jembatan kayu yang sudah lapuk.
Sementara itu, Ruas 2 Aruk-Batas Kecamatan Siding yang memiliki panjang 53,61 km sudah dalam kondisi beraspal sepanjang 41,6 km, dan sisanya masih berupa perkerasan tanah sepanjang 12,01 km.
Peningkatan kualitas juga dilakukan pada ruas yang masih berupa tanah, termasuk peninggian badan jalan sepanjang 2 kilometer di lokasi rawan banjir, yaitu antara Simpang Tapang dan Simpang Take.
Selain itu, ada 19 jembatan kayu yang bakal diperbaiki karena sudah lapuk dan akan diganti dengan jembatan berupa box culvert.
Dengan pembangunan jalan paralel perbatasan yang semakin maju, diharapkan akan tercipta akses yang lebih baik bagi masyarakat di kawasan perbatasan.
Ini juga akan mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga di daerah-daerah tersebut, serta memperkuat pertahanan dan keamanan nasional. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi