Lololo Ga Bahaya Ta? Dulunya Kawasan Ini Jadi Tempat Prostitusi Terbesar se-Asia Tenggara, Kini Jadi Masjid

inNalar.com – Ada beberapa tempat prostitusi di Indonesia yang sudah eksis sejak zaman kolonial Belanda dan kini berubah fungsi.

Salah satunya menjadi tempat ibadah atau pusat keagamaan di bekas kawasan prostitusi tersebut.

Tempat prostitusi di Indonesia memang sudah diatur oleh masing-masing pemerintah daerahnya.

Baca Juga: Mendadak Jadi Sultan, Mbah Taryo Terima Rp 19 Miliar Dari Pembangunan Tol Jambi-Belitung

Namun tak sedikit masyarakat sekitar yang resah akan keberadaan tempat prostitusi karena menjadi sumber penyakit.

Tempat prostitusi kerap kali menjadi momok bagi generasi muda karena bisa merusak moralitas agama.

Berikut beberapa tempat prostitusi di Indonesia yang diubah menjadi tempat ibadah.

Baca Juga: Mall Mewah di Balikpapan Ini Mengusung Konsep Dunia Dongeng, Termegah di Kalimantan Timur

1. Dadap Ceng In

Tempat prostitusi Dadap Ceng In yang berada di Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang ini sudah terkenal sejak tahun 80-an.

Nama Ceng Ini sendiri diambil dari seorang pengusaha keturunan China yang bernama Ko Cheng In yang pertama tinggal di sana.

Pasalnya, sebelum jadi tempat prostitusi, Kelurahan Dadap hanyalah tanah kosong yang tak berpenghuni.

Baca Juga: Punya Kuliner Mendunia, Daerah Besar di Sumatera Barat Ini Justru Punya Angka Kemiskinan yang Tinggi

Kemudian pada tahun 1976 banyak warga yang pindah ke Dadap Ceng In karena digusur dari Muara  Karang.

Pada tahun 2016 Pemkab Tangerang akhirnya menutup tempat prostitusi Dadap Ceng In dan dijadikan sebagai Islamic Center serta masjid raya.

2. Saritem

Tempat prostitusi yang satu ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda pada tahun 1838.

Berada di Kota Bandung, banyak pekerja seks komersial di lokalisasi Saritem didatangkan dari beberapa daerah tapi dengan cara ditipu.

Nama Saritem berasal dari seorang gadis pedagang jamu di lokasi prostitusi tersebut.

Karena parasnya yang cantik, akhirnya memikat hati orang Belanda untuk dijadikan gundik atau selir.

Kemudian Saritem diminta oleh beberapa kenalan orang Belanda untuk mencarikan gadis pribumi yang mau dijadikan selir.

Tentu hal itu hanya untuk memuaskan hasrat para tentara Belanda yang belum menikah atau tinggal jauh dari istrinya.

Namun pada 2007 Pemkot Bandung bersama organisasi masyarakat akhirnya menutup tempat prostitusi tersebut.

Kini Saritem berubah menjadi pusat keagamaan dan pondok pesantren Daruttaubah.

3. Kramat Tunggak

Berlokasi di Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta, tempat prostitusi Kramat Tunggak kini berubah menjadi Jakarta Islamic center.

Padahal dulunya tempat prostitusi Kramat Tunggak menjadi yang terbesar di Asia Tenggara pada tahun 1970 hingga 1999.

Sebanyak 2.000 PSK di lokalisasi Kramat Tunggak harus pensiun karena ditutup oleh Gubernur Sutiyoso.

Jakarta Islamic Center yang didirikan sejak 2002 semakin berkembang hingga saat ini.

Sekarang kawasan tersebut sudah menjadi pusat perdagangan dan agama di Jakarta.***

Rekomendasi