Lika-liku Perjalanan Soeharto Saat Masih Kecil, Sudah Rasakan Kehidupan yang Pahit Hingga Diejek Teman

 

inNalar.com – Kehidupan masa kecil Soeharto memiliki kisah yang rumit dan penuh dengan segala permasalahan.

Bagi Soeharto, ia berasal dari keluarga kurang mampu yang tinggal di Desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, Yogyakarta.

Ayah Soeharto yang bernama Kertosudiro, sebelumnya merupakan seorang duda beranak dua.

Baca Juga: RI Sempat Disanjung Bank Dunia, Benarkah Soeharto Lengser karena Krisis Moneter? Begini Fakta Sebenarnya

Kemudian sang ayah menikah dengan Sukirah yang merupakan Ibu Soeharto.

Namun, tak lama setelah Soeharto lahir, ayah dan ibunya bercerai.

Sukirah, Ibu Soeharto akhirnya menikah kembali dengan laki-laki bernama Atmopawiro dan memiliki tujuh orang anak.

Sedangkan Kertosudiro juga menikah lagi dan memiliki 4 orang anak.

Baca Juga: Mengenal Sosok Prawirowiharjo, Paman Soeharto yang Memiliki Peran Penting dalam Hidupnya, Ternyata Seorang…

Mengutip dari buku berjudul Biografi Daripada Soeharto, karya A Yogaswara, dijelaskan jika Soeharto yang saat itu belum berusia 40 hari dibawa ke rumah adik kakeknya, bernama Kromodiryo.

Kromodiryo berprofesi sebagai dukun bayi yang juga membantu proses kelahiran waktu Soeharto lahir.

Alasan dibawa ke rumah Kromodiryo adalah ibunya Soeharto yang jatuh sakit.

Oleh sebab itu, Soeharto tinggal di rumah Mbah Kromo, panggilan Soeharto, sekitar 4 tahun.

Baca Juga: Dejavu Kekuasaan, Pola Mundurnya Soeharto Disebut Miliki Kemiripan dengan Era Soekarno, Karma atau Kudeta?

Selama tinggal bersama Mbah Kromo, Soeharto merasakan kehangatan akan kasih sayang.

Ia diajarkan berdiri dan berjalan. Ia juga suka diajak pergi ke sawah, bermain lumpur, dan mencari belut.

Namun, saat sudah berumur 4 tahun Soeharto kembali dijemput oleh ibunya dan tinggal bersama ayah tirinya, Soeharto tidak merasakan dan mendapatkan kehangatan itu lagi.

Pada saat itu, ia langsung merasakan pahitnya hidup. Salah satu kejadian yang ia alami adalah masalah baju.

Akibat dari kondisi ekonomi keluarga yang kurang baik, ia hanya bisa mengenakan celana hitam selutut tanpa baju.

Lalu, mengetahui Soeharto yang menginginkan baju, kakek buyut dari ibunya, Mbah Notosudiro memanggil dan menyuruhnya untuk mencoba sorjan (kemeja Jawa) buatannya sendiri.

Setelah itu, sorjan yang dicoba oleh Soeharto itu, bukan untuk dirinya, melainkan untuk kakaknya, Darsono.

Melihat hal itu, membuat Soeharto merasa sedih dan langsung membekas rasa hina di dalam hatinya.

Pada saat Soeharto beranjak remaja, Soeharto pindah sekolah ke Desa Pedes dari Desa Puluhan, Godean, mengikut orang tuanya yang pindah.

Baca Juga: Tak Tersorot Media, Kisah Presiden Soeharto Saat Krisis 1998: Pidato Kabinet Reformasi Berubah Menjadi..

Saat masa sekolah tersebut ia pernah diejek oleh teman-temannya.

Melihat dan merasa khawatir akan masa depan anaknya, Kertosudiro memilih untuk menitipkan Soeharto ke rumah Prawirowiharjo, yakni suami dari adiknya Kertosudiro.

Pada masa inilah, Soeharto kembali merasakan kehidupan yang lebih dari sebelumnya, karena dia diperlakukan dengan baik.

Meskipun bukan anak kandung, Soeharto tetap diperlakukan sebagai anak bagi bibinya.

Soeharto juga banyak mendapatkan pengalaman, seperti belajar tentang keagamaan hingga mengatasi masalah dalam pertanian. ***

Rekomendasi