Leuweung Sancang, Jejak Mistis Prabu Siliwangi di Hutan Keramat Jawa Barat yang Penuh Keindahan

inNalar.com – Di ujung Kabupaten Garut, Jawa Barat, terdapat sebuah hutan keramat yang melegenda.

Hutan keramat tersebut adalah Leuweung Sancang. Berlokasi di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Secara harfiah, kata ‘Leuweung’ dalam bahasa Sunda artinya adalah hutan.

Baca Juga: Uniknya Kampung di Jawa Timur Ini yang Hanya Memiliki 4 Kepala Keluarga

Jadi, bisa diartikan bahwa Leuweung Sancang juga bisa disebut Hutan Sancang.

Hutan Sancang ini dikenal karena mitos dan keangkerannya yang banyak dipercayai sampai saat ini.

Hutan keramat ini dipercaya menjadi tempat menghilangnya Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Sunda, beserta para prajuritnya.

Baca Juga: 4 km dari Pusat Kota Yogyakarta! Pasar Satwa dan Tanaman Hias Terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Berdasarkan legenda, Prabu Siliwangi yang dikejar oleh putranya, Raden Kian Santang, melarikan diri ke hutan ini dan menjelma menjadi Maung Bodas, atau harimau putih.

Leuweung Sancang dijadikan sebagai tujuan wisata religi oleh beberapa orang.

Yang sering dijadikan destinasi religi untuk berziarah adalah Goa Sancang dan hutan Rancakalong.

Baca Juga: 3 Daerah Terpanas di Jawa Timur 2024, Juara Pertama Bukan Surabaya Tapi Kota Ini

Banyak yang percaya bahwa Maung Sandang hanya akan muncul di waktu tertentu dan hanya bisa dipanggil oleh orang berilmu tinggi.

Di luar kisah mistisnya, hutan ini menyuguhkan keindahan alam yang sangat menakjubkan.

Dengan area seluas 2.157 hektar, Leuweung Sancang menghadirkan panorama alam yang indah, pantai yang cantik, dan sungai yang bersih.

Kawasan ini dibagi menjadi beberapa tipe hutan, seperti mangrove, hutan dataran rendah, dan hutan pantai.

Di sini terdapat banyak pohon raksasa, batu besar, dan tebing yang curam.

Cuaca di hutan ini berkisar antara 17 sampai 28 derajay celcius.

Hutan ini juga menjadi rumah bagi flora dan fauna langka, termasuk Owa Jawa, macan tutul, sapi liar, kijang, ajag, dan berbagai spesies tanaman yang hanya tumbuh di hutan ini.

Ada pula pohon dan tanaman langka yang hidup di sini, yaitu pohon kaboa dan tanaman bakau.

Tempat ini dipercaya sebagai tempat petilasan terakhir Prabu Siliwangi.

Kaboa dipercaya masyarakat sekitar adalah kata-kata terakhir yang ditulis oleh Prabu Siliwangi di sebuah pohon kayu.

Sayangnya, ancaman terhadap keanekaragaman hayati di Leuweung Sancang terus meningkat.

Perburuan liar menjadi ancaman paling utama di hutan ini.

Banyak hewan endemik yang kini sulit untuk ditemukan, seperti banteng Sancang, merak, dan rusa.

Bahkan, beberapa hewan di sini juga dikabarkan telah punah.

Perburuan liar ini masih sulit untuk diberantas, meskipun petugas kehutanan dan BKSDA
(Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Jawa Barat sudah melakukan patroli.

Di tengah tantangan yang dihadapi, masyarakat sekitar Leuweung Sancang selalu melakukan syukuran laut setiap tahun pada tanggal 1 Muharram.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur mereka kepada Tuhan dan usaha dalam menjaga keberlanjutan laut Sancang.

Tradisi ini adalah wujud kepedulian masyarakat dalam melestarikan alam.

Sebagai warga negara Indonesia, kita harus bisa menjaga dan melindungi alam serta tradisi yang ada.***(Dea Fransisca)

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]