

inNalar.com – Terdapat temuan emas berlimpah yang terpendam di dekat Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Potensi emas yang berjarak 4,6 kilometer dari Kota Palu ini diketahui berada di sebuah tanah bebatuan desa terpencil di Sulawesi Tengah.
Endapan logam mulia ini tercatat dalam data Badan Geologi Pusat Sumber Daya Minerba Kementerian ESDM.
Lebih merinci, telah diungkap besaran potensi emas yang tersimpan di pelosok desa dekat Kota Palu, Sulawesi Tengah ini.
Tepat berada di Desa Poboya, potensi kandungan emas terkira tercatat sebesar 4,24 juta ton.
Sementara potensi sumber daya mineral yang terukur di kampung ini sebesar 2,58 juta ton.
Bahkan simpanan tertunjuk dari logam mulia tersebut mencapai 4,98 juta ton, sedangkan untuk potensi tereka sebesar 1,55 juta ton.
Temuan kekayaan alam yang bersinar ini telah menggelitik seorang peneliti geologi.
Sebab, endapan emas di desa dekat Kota Palu ini tidak memiliki asal-usul batuan vulkanik yang biasanya berkaitan erat dengan sistem epitermal.
Sebagai informasi, Desa Poboya sendiri terletak di wilayah Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Telah ada sebuah tambang yang dibangun di sana, dikelola oleh salah satu anak perusahaan PT Bumi Resources Minerals Tbk.
Area konsesi lahan tambang emas di pelosok Sulawesi Tengah ini dimiliki oleh PT Citra Palu Minerals.
Belum lama ini, tepatnya pada November 2023, perusahaan tersebut berhasil menemukan sumber daya baru yang dinilai cukup prospektif.
Total luas konsesi area tambang emas milik PT Citra Palu Minerals di Sulawesi Tengah dan Selatan diketahui melapang hingga 85.180 hektare.
Namun IUP Poboya digadang-gadang jadi kerukan tambang emas paling prospektif bagi perusahaan.
Adapun PT Bumi Resources Tbk diketahui memiliki 96,97 persen saham di perusahaan operator tambang ini.
Sebagai informasi tambahan, tambang emas yang dikelola perusahaan ini diketahui masih akan dikeruk hingga tahun 2050.
Perusahaan telah mendapatkan izin konsesi produksi logam mulia dari Kementerian ESDM selama 30 tahun.
Terdapat pula Sungai Poboya yang wilayah hulunya sejak lama telah dijadikan tempat pertambangan emas.
Sementara wilayah hilir sungainya digunakan untuk kepentingan air baku pemukiman dan irigasi pertanian dan perkebunan rakyat.
Hadirnya perusahaan profesional yang mengelola pertambangan emas di Desa Poboya dengan kualitas peralatan yang lebih modern ini cukup merubah keadaan.
Keberadaan potensi emas di desa pinggiran Kota Palu ini sempat menjadi mata pencaharian paling utama rakyatnya.
Namun setelah adanya perusahaan yang bermodalkan teknologi canggih, para penduduk desa memilih untuk bertani dan berladang.***