Lanskap 100.000 Ha Mesir Berubah! Bendungan Aswan Malah Sebabkan Kemunculan Penyakit Tertua di Dunia, Kok Bisa?

inNalar.com – Sebuah prestasi pembangunan infrastruktur yang tidak terlupakan bagi Mesir tatkala negaranya berhasil miliki bendungan terbesar di dunia di Kota Aswan.

Daya tampung genangannya mencapai 57 meter kubik, ada banyak manfaat pengikut yang berhasil dirasakan negeri sahabat pertama Indonesia ini.

Mulai dari perannya dalam membendung debit banjir yang secara berkala meluap saat akhir musim panas.

Baca Juga: Kunker ke Portugal, Menteri PUPR Intip Penggalian Proyek ‘Terowongan Drainase Raksasa’ yang Diramalkan Mampu Cegah Banjir

Sampai dengan peran kebangkitan ekonomi Mesir melalui sektor pertanian.

Sampai-sampai bendungan yang berlokasi di Kota Aswan ini mampu mengubah lanskap Mesir usai manfaatnya mulai difungsikan mulai tahun 1970.

Setidaknya terdapat 100.000 hektare hamparan gurun berubah menjadi lahan guna aktif di sepanjang lintasan Sungai Nil.

Baca Juga: Investasinya Rp500 Miliar, Pabrik Baru PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk Targetkan Kapasitas Produksi Capai 150 Ribu Ton Per Tahun

Ditambah lagi terdapat 800.000 hektare lahan di sepanjang lintasan sungai yang dibendung oleh Bendungan Aswan ini berubah menjadi area tanam hijau aktif.

Sebagai selingan informasi, proyek infrastruktur ketahanan air ini menjadi perhatian khusus Presiden Gamal Abdel Nasser sejak tahun 1952.

Berkat daya dan upaya kabinet kerjanya, kendala pendanaan dapat diatasi hingga akhirnya bendungan ini rampung pada 21 Juli 1970.

Baca Juga: Penjualannya Turun 22 Persen, PT Satyamitra Kemas Lestari Targetkan Pembangunan Pabrik di Batang Selesai 2024

Namun tahukah bahwa di samping sebaran manfaat dari infrastruktur ini, terdapat pula sejumlah kerugian yang dirasakan dalam waktu bersamaan oleh masyarakat Mesir.

Dahulu saat banjir tahunan meluap, air yang membawa kandungan mineral tinggi ini menyuburkan lahan pinggiran Sungai Nil.

Namun sejak banjir berhasil dibendung oleh Bendungan Aswan, kesuburan semakin berkurang karena asupan nutrisi air yang terbawa banjir tidak lagi terjadi seperti sebelumnya.

Baca Juga: Kuras Rp43,802 Miliar, Proyek Revitalisasi Bendungan di Jawa Barat Ini Diramalkan Mampu Tangkal Banjir hingga 73 Persen

Kurangnya kandungan nutrisi air yang dibawa tersebut juga berimbas pada berkurangnya populasi ikan teri di Laut Mediterania Timur.

Hingga yang paling tidak terduga adalah, adanya kemunculan penyakit demam keong atau yang disebut juga dengan Schistosomiasis, bagaimana bisa?

Penyebaran penyakit yang tidak terduga ini disinyalir ikut terbawa melalui saluran irigasi yang berasal dari bendungan tersebut.

Baca Juga: Didukung Warga, Proyek Jalan Tol Layang di Sulawesi Selatan Ini Dibangun Tanpa Pembebasan Lahan, Dapat Penghargaan Internasional Bernama…

Memang penyakit ini sering bermunculan di area tropis seperti Afrika, Amerika Selatan, hingga Asia tanpa terkecuali.

Penyakit ini diketahui menyebar dari cacing yang berkontak dengan air hingga akhirnya bisa menginfeksi mereka yang mengonsumsi air yang terkontaminasi tersebut.

Penyakit ini dijelaskan secara detail dalam salah satu penelitian yang dipublikasikan oleh UGM melalui Jurnal Kedokteran Masyarakat.

Baca Juga: Usai Mangkrak 30 Tahun, Anggaran Proyek Bendungan di Lebak Banten Ini Membengkak dari Rp1,3 Triliun Menjadi…

Penyakit demam keong atau Schistosomiasis termasuk ke dalam jajaran penyakit tertua di dunia.

Telah menjangkit penduduk Mesir lebih dari 4.000 tahun yang lalu, tahukah bahwa telur Schistosomiasis sempat ditemukan dalam mumi yang usia pengawetannya 3.500 tahun lamanya.

Sebagai informasi tambahan, penyakit ini pun tercatat oleh World Health Organization (WHO) sempat menjadi endemi di sejumlah 28 desa yang tersebar di Sulawesi Tengah.

Baca Juga: Kim Soo Hyun dan Kim Ji Won Tampil Sebagai Pasangan Bahagia di Drama Terbaru Berjudul ‘Queen of Tears’ , Tapi…

Penyebaran penyakit tertua di dunia ini sempat menyala redup di Kabupaten Poso dan Sigi.

Akhirnya pada kisaran tahun 2017 – 2019, WHO mendorong realisasi program obat pencegahan massal untuk mengantisipasi persebaran dan keberlanjutan penyakit ini di Indonesia.***

Rekomendasi