Langgeng Selama 32 Tahun, Bagaimana Cara Soeharto Jadi Presiden Paling Lama di Sejarah Kepemimpinan Indonesia?

inNalar.com – Soeharto adalah presiden kedua di Indonesia yang memiliki masa jabatan paling lama dalam sejarah.

Soeharto mengawali kepemimpinan di Indonesia pada tahun 1967 kemudian berakhir pada 1998.

Pada bulan September 1965 sendiri, telah terjadi peristiwa gerakan 30 September yang menjadikan situasi semakin kacau.

Baca Juga: Belum Punya Pasangan? Lima Kota di Jawa Timur Ini Cocok Jadi Destinasi Cari ‘Gebetan’, No 1 Bukan Surabaya!

Selain itu, peristiwa tersebut juga menyebabkan kosongnya komando angkatan darat.

Hal ini menyebabkan Presiden Soekarno yang kala itu menjabat mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (SUPERSEMAR), tepatnya pada tahun 1966.

Disebutkan isinya adalah perintah Soekarno kepada Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Kostrad untuk mengamankan situasinya.

Baca Juga: Resmi! Organisasi Projo Bakal Dukung Prabowo di Pilpres 2024: Bukti Tegak Lurus ke Jokowi?

Inilah awal mula Soeharto mengawali karirnya sebagai pemimpin nomor satu di tanah air.

Tepat setahun setelahnya, MPRS menggelar sidang istimewa sehingga ditunjuklah Soeharto sebagai penjabat presiden pada tanggal 12 Maret 1967.

Untuk pengukuhan sebagai presidennya sendiri dilakukan satu tahun kemudian pada 27 Maret.

Baca Juga: Luas Terminalnya 20.000 m2, Bandara di Konawe Selatan Sultra yang Ganti Nama Ini Sempat Terjegal Sengketa…

MPRS secara resmi melantik Soeharto sebagai presiden kedua di Indonesia dengan masa jabatan 5 tahun.

Setelah itu, pada setiap pemilu yang dilakukan di tanah air ternyata secara konsisten Soeharto terus terpilih kembali. Tepatnya mulai dari tahun 1971 sampai dengan 1997.

Bagaimana Cara Soeharto Jadi Presiden Paling Lama di Indonesia?

Sebenarnya, landasan hukum tentang masa jabatan presiden di tanah air sempat beberapa kali mengalami perubahan.

Bahkan, MPRS pada orde lama sendiri mengangkat Soekarno sebagai presiden seumur hidupnya.

Selanjutnya, pada order baru peraturan tersebut kembali mengikuti undang-undang dengan masa jabatan 5 tahun saja tetapi sesudahnya dapat dipilih kembali.

Tidak heran jika, Presiden Soeharto dapat terpilih kembali secara konsisten.

Pasalnya, pemilihan presiden dapat dilakukan kembali tanpa adanya batasan maksimal periode tertentu sekalipun.

Lantas, apakah ada hal lain yang menyebabkan presiden satu ini dapat memperoleh masa kepemimpinan dalam waktu lebih dari 30 tahun?

Konsep Demokrasi yang Belum Matang

Melansir dari akun YouTube Larka Rahadi Riyanto, konsep demokrasi era orde baru terbilang masih belum matang.

Pasalnya, pemilu yang dilakukan tidak ditujukan untuk memilih presiden dan wakil presiden.

Akan tetapi, hanya ditujukan untuk memilih partai politik yang nantinya akan berkuasa.

Saat Presiden Soekarto masih menjabat, ia membuat MPRS yang anggotanya diangkat langsung oleh presiden.

MPRS sendiri merupakan sebuah perwujudan dari suara rakyat pada era tersebut.

Hal ini berarti, rakyat tidak memilih presiden secara langsung. Tetapi MPRS yang akan memilihnya.

Tentu hal ini menjadi penyebab mengapa presiden tetap terus dipilih karena anggotanya pun dipilih oleh presiden.

Termasuk pada era kepemimpinan Presiden Soeharto sehingga ia terus dipilih dalam periode waktu yang lama.

Regulasi Penyederhanaan Partai Politik

Salah satu yang mempengaruhinya adalah adanya regulasi yang mengatur untuk menyederhanakan partai politik.

Pada Undang-undang yang diberlakukan saat itu, hanya terdapat dua partai politik dan satu Golongan Karya saja.

Dua partai tersebut yakni Partai Demokrasi Indonesia serta Partai Persatuan Pembangunan yang menjadi pesaing utama Golkar.

Adanya situasi politik tersebut terus berlanjut dalam beberapa tahun yang dimenangkan oleh Golkar secara konsisten.

PNS Wajib Memilih Partai Golkar

Selain poin di atas, terdapat beberapa regulasi lainnya yang menggiring para PNS untuk memilih Partai Golongan Karya.

Para PNS dilarang untuk tergabung ke dalam anggota partai politik.

Untuk aspirasi politik PNS sendiri hanya dapat disalurkan lewat Golkar.

Sementara untuk pegawai negeri yang tidak mendukung golkar, maka ia akan dikucilkan, dimutasi, atau bahkan dipecat.

Tingginya Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

Pada awal pemerintahannya, Presiden Soeharto cukup fokus dalam hal kebijakan ekonomi.

Terutama untuk menjadikan ekonomi lebih stabil secara nasional. Ia bahkan mampu menekan angka inflasi pada 1967 hingga 1968.

Tidak hanya itu, presiden ini juga memilih fokus untuk melaksanakan banyak pembangunan.

Hal ini menyebabkan ia mendapat julukan sebagai “Bapak Pembangunan”.

Salah satu hasil pembangunan yang cukup populer adalah Swasembada Pangan.

Pada 1984, Indonesia sudah mampu mencapai negara Swasembada Pangan karena kebutuhan beras dapat terpenuhi dengan baik.

Soeharto juga membuat kebijakan wajib belajar hingga 9 tahun serta merencanakan Program Keluarga Berencana (KB).*** 

 

Rekomendasi