

inNalar.com – Berikut ini shalawat tarhim adalah shalawat yang dibacaakan sebelum menjelang azan dan ditunjukan kepada nabi Muhammad SAW.
Shalawat Tahrim diawali dengan bacaan assolatuwassalamualaik, serta dibaca sebelum azan berkumandang.
Namun, shalawat tarhim subuh biasanya dikumandangkan dibandingkan jam shalat lainnya seperti zuhur dan ashar.
Baca Juga: Kunci Jawaban Buku Tematik Tema 4 Kelas 2 SD Halaman 62 63, Pembelajaran 2 Subtema 2
Namun, berikut ini akan dijelaskan lafadz tarhim subuh yang juga disertakan latin, arab dan artinya juga berikut ini.
Selain itu, tarhim ramadhan juga biasa dibacakan sebelum menjelang azan shalat 5 waktu dikumandangkan.
Namun, berikut ini simak penjelasan tentang shalawat tarhim subuh, yang dijelaskan sejarah singkatnya.
Baca Juga: Website PT LIB Dihack: Aparatnya Ga Negertiin, Supporternya Norak, Belain Tim Bola Kaya Bela Agama
Shalawat Tarhim adalah sebuah bacaan shalawat yang ditujukan kepada nabi umat Islam Muhammad dan dikumandangkan oleh masjid atau musala di Indonesia sesaat sebelum azan.
Pada umumnya shalawat ini diperdengarkan sesaat sebelum azan subuh untuk memberikan aba-aba kepada muslim yang akan menunaikan shalat subuh.
Sekaligus peringatan bagi muslim yang berpuasa untuk segera menyelesaikan sahur sebab akan memasuki waktu subuh atau imsak.
Bacaan ini diciptakan dan direkam oleh Syekh Mahmud Kholil Al Hussary pada 1959 dan pertama kali masuk Indonesia pada 1960 oleh Studio Lokananta dan disiarkan pertama kali oleh Radio Yasmara A.M Surabaya.
Berikut ini adalah bacaan tarhim, dari teks Arab, latin, dan juga artinya:
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ
۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ
وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ
وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞
يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞
صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞
Bacaan tarhim latin:
Ash-sholatu was-salamu ‘alayk
Ya imamal mujahidîn ya Rasulallah
Ash-sholatu was-salamu ‘alayk
Ya nashiral huda ya khayra khalqillaah
Ash-sholatu was-salamu ‘alayk
Ya nashiral haqqi yâ Rasulallah
Ash-shalatu was-salamu ‘alayk
Ya Man asro bikal muhayminu laylan nilta ma nilta wal-anamu niyamu
Wa taqaddamta lish-shalati fashalla kulu man fis-samai wa antal imamu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntaha rufi’ta karîman wa sai’tan nida ‘alaykas salam
Ya karîmal akhlaq yâ Rasulallah
Shallallahu ‘alayka wa ‘ala alika wa ashhabika ajma’in
Arti bacaan tarhim:
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemulianmu
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.
Perlu diketahui, jika bacaan tarhim ini diciptakan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Husshari (1917-1980), yang merupakan seorang qari’ ternama lulusan Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Kemudian shalawat ini sampai di Indonesia pada tahun 1960-an, di mana saat itu, Syeikh Mahmud diminta untuk merekam Shalawat Tarhim di Radio Lokananta, Solo.
Hasil rekaman ini lalu disiarkan oleh Radio Lokananta, Solo, dan juga Radio Yasmara, yang ada di Surabaya. Inilah yang kemudian menjadi awal mula bacaan tarhim populer dan banyak dikumandangkan di Indonesia.***