Laba Terjun 91 Persen, Pemilik Pabrik Amonia di Sulawesi Tengah Ini Bakal Irit Capex Demi Kejutan Proyek Bernilai US$ 150 Juta di 2025, Apa Itu?


inNalar.com –
Sebuah pabrik amonia terbesar di Sulawesi Tengah ini berada di bawah naungan PT ESSA Industries Indonesia Tbk.

Pabrik senilai US$ 800 juta itu tengah dipersiapkan oleh ESSA untuk bisa memproduksi sebuah komoditas andalan baru yang bakal melejitkan nilai produksi perusahaan.

Meski kinerja laba perusahaan pada kuartal III tahun 2023 merosot 91 persen, perusahaan kimia ini memilih tetap fokus menggarap sebuah proyek Amonia Biru yang akan diluncurkan pada tahun 2025.

Baca Juga: Mampu Bongkar Ikan 53.000 Ton per Tahun, Pelabuhan Perikanan Terbesar di Jawa Timur yang Alami Pendangkalan Ini Bakal Diperbaiki

Pasalnya produk amonia biru ini diramalkan bakal semakin melonjak permintaannya di masa yang akan datang lantaran diklaim sebagai salah satu sumber energi bersih.

Adapun target pasar dari produksi berbasis energi bersih ini adalah Jepang. Salah satu alasan perusahaan getol menggarap proyek ini juga untuk mengantisipasi negeri sakura itu menerima produknya.

Estimasi biaya investasi yang bakal diserap untuk pengerjaan proyek amonia biru ini mencapai US$ 150 Juta.

Baca Juga: Ekspor Sepanjang 2023 Capai Rp390 Triliun, Jumlah Laba Bersih PT Gunung Raja Paksi Tbk Anjlok

Sebelumnya diungkap bahwa kinerja keuangan ESSA tengah mengalami tekanan besar sebagaimana diungkap dari Laporan Keuangan Kuartal III Tahun 2023.

Emiten yang mengoperasikan kilang LPG dan pabrik amonia ini membeberkan bahwa pendapatan perusahaan anjlok 58 persen.

Apabila pada periode sebelumnya perusahaan mampu meraup cuan hingga US$ 557, pada sembilan bulan terakhir pencapaiannya tertahan di nominal US$ 232 juta.

Baca Juga: Manfaatkan APBD Rp3 Triliun, Pemprov Kalimantan Selatan Bangun Jembatan Baru Penghubung Pulau Laut dengan Kalimantan

Meski beban pengeluaran perusahaan ikut menyusut, tetapi margin pendapatannya hanya mampu menyisakan laba kotor sebesar US$ 48 juta.

Alhasil, laba bersih pun merosot 91 persen dari mulanya mampu tembus US$ 105 juta, pada periode terakhir ini perseroan hanya mampu menggali profit sebesar US$ 10 juta.

Kanishk Laroya selaku CEO PT ESSA Industries Indonesia Tbk membeberkan persiapan belanja modal atau capital expenditure (capex) di sepanjang tahun 2024.

Baca Juga: Link Live Streaming Bournemouth vs Liverpool di Liga Inggris 2023-2024: Misi The Reds Lanjutkan Tren Positif

Tahun ini pihaknya diketahui tidak akan menggelontorkan belanja modal dalam nilai yang fantastis.

Rencana ini dikarenakan perusahaan baru akan menggelontorkan dana capex dalam jumlah besar saat proyek amonia biru launching di tahun 2025.

Sebagai informasi, progres proyek fase pertama dikonfirmasi telah selesai, sedangkan untuk fase kedua ditarget bakal selesai pada kuartal IV 2024.

Baca Juga: Kehabisan Dana APBN, Proyek Kawasan Industri Senilai Rp17,5 Triliun di Lampung Ini Dihentikan dari PSN

Pada tahun ini, pihaknya akan melakukan pemantapan dari hasil validasi fase pertama dan akan melakukan studi lebih mendalam terkait reservoir dan struktur.

Sehingga apabila proyek fase kedua bisa selesai, biaya pasti investasiya baru dapat diperinci kembali.

Apabila progres sesuai dengan target penyelesaiannya, diharapkan pada tahun selanjutnya proyek amonia biru bakal diluncurkan dan mulai beroperasi pada kuartal II 2027.

Baca Juga: Sudah Gelontor Rp395 Miliar, Proyek Terowongan Samarinda di Kalimantan Timur Terhenti Gegara Nabrak Aset Daerahnya Sendiri, Nasibnya…

Jepang digadang bakal jadi target pasar perdana jika nantinya pabrik amonia terbaru ini telah berhasil memproduksi produk terbaru milik ESSA ini.

Produksi amonia biru ini bakal menjadi komitmen besar perusahaan dalam mendukung transformasi energi bersih.

Sejauh ini pabrik amonia milik anak usahanya, PT Panca Amara Utama di Sulawesi Tengah ini mampu memproduksi 700.000 metrik ton per tahun.

Baca Juga: Raup Investasi Rp347 Triliun, Kawasan Industri Besutan PT IMIP di Sulawesi Tengah Bikin Pendapatan Morowali Makin Gacor, Ternyata Segini Cuannya

Ke depannya, fasilitas produksi khusus untuk amonia biru ini juga akan di-upgrade dengan kapasitas serupa.***

Rekomendasi