

inNalar.com – Perusahaan raksasa asal Korea Selatan ini bersiap borong saham yang dilepas oleh para pemegang saham lama PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE).
Untuk pertama kalinya, perusahaan tambang yang berbasis di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara ini melakukan Initial Public Offering (IPO) saham.
Namun demikian, saham yang dijual adalah milik 4 pemegang saham lamanya, di antaranya sebagai berikut.
Para pemegang saham yang berencana jual sahamnya meliputi PT Sungai Mas Minerals (SMM) yang diketahui memiliki 51 persen saham NICE.
Selain itu, ada PT Inti Mega Ventura (IMEV) yang juga memiliki 48,18 persen saham di perusahaan tambang terbesar di Konawe Utara tersebut.
Adapula Michael Adhidaya Susantyo dengan kepemilikan 0,41 persen saham NICE, begitu pula dengan Victor Agung Susantyo dengan porsi saham yang serupa.
Penawaran tersebut tercatat totalnya mencapai 1.216.404.000 saham dan bakal dibanderol dengan harga kisaran Rp430 – 530 per saham.
Jadi nilai divestasi dari IPO nantinya akan tidak jauh dari kisaran Rp523,05 miliar – Rp644,69 miliar.
SMM nantinya bakal melepaskan 1.739.634.385 saham, begitu pula dengan IMEV juga akan melepas 25.000.000 saham.
Sementara NICE sendiri bakal melepas 1.859.577.615 saham, sedagkan MAS dan VAS masing-masing bakal melepas 25.000.000 sahamnya.
Adapun Perusahaan asal Korea Selatan bernama LX International Corp (LXI) diketahui bakal mengambil alih 60 persen saham melalui PT Energi Battery Indonesia (EBI).
Adapun posisi PT Energi Battery Indonesia sendiri diketahui menjadi anak perusahaan LXI yang sahamnya dikendalikan oleh emiten Korea Selatan ini sebesar 99,99 persen.
Sedikit informasi, LXI adalah emiten yang telah go public di Bursa Efek Korea sejak 1976.
Perusahaannya bergerak di bidang investasi tambang yang sebarannya ada di Indonesia, Tiongkok, dan Australia.
Selain itu, emiten ini juga merampah bisnis sawit dan bidang pembangkit listrik, bidang pengolahan baja, dan masih banyak proyek lainnya.
Dikabarkan, LX International Corp akan mengakuisisi tambang nikel yang berlokasi di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara senilai KRW 133 miliar.
Apabila dirupiahkan dengan kurs terkini, maka besaran nilai akuisisi mencapai Rp1,5 triliun.
Dengan dilakukannya pengambil alihan 60 persen saham PT Adhi Kartiko Pratama, menandai pula pemindahan kepemilikan area tambang garapan NICE yang diketahui luasnya melega hingga 2.000 hektar.
Luas tersebut rupanya setara dengan 7 kali lipat luas pulau Yeouido di Seoul yang hanya mencapai 290 hektare.
Diketahui pula potensi cadangan sumber daya yang ada di area tambang yang bakal dicaplok besarannya mencapai 51,4 juta ton.
Dengan berlimpahnya sumber daya di Konawe Utara diharapkan kebutuhan produksi baterai EV bakal mampu mendorong produksi kendaraan listrik hingga lebih dari 7 juta unit.
Tidak mengherankan perusahaan LXI tampak ambisius pada bisnis nikel di Indonesia, karena emiten Korea Selatan ini sukses catatkan pendapatan di tahun 2023.
Melansir dari situs resmi LX International, rupanya total pendatan selama tahun 2023 berhasil menembus 277,5 miliar KRW atau setara dengan Rp3 triliun. ***