Kuras Biaya Capai Rp4,8 Triliun, PLTGU di Jawa Tengah Ini Terpaksa Sempat Diberhentikan PLN, Kenapa?

inNalar.com – PLTGU merupakan gabungan antara PLTG dengan PLTU dan salah satunya berada di Jawa Tengah.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap di Jawa Tengah ini dikenal oleh masyarakat dengan nama Tambak Lorok.

Lokasinya berada di Tj. Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Baca Juga: 5.697 KK Terdampak Relokasi, Bendungan Rp5,2 Triliun di Kab Bogor Jawa Barat Ini Diramalkan Jadi Penangkal Banjir Citarum dengan Efektivitas 66 Persen

Instalasi pembangkit listrik ini dioperasikan oleh PT Indonesia Power.

PLTGU Tambak Lorok ini didirikan pada tahun 1996 dan mulai beroperasi pada tahun 1997.

Dilansir inNalar.com dari laman ESDM, infrastruktur ini awalnya diopersikan oleh PT Indonesia Power menggunakan bahan bakar minyak.

Baca Juga: Biaya Pembangunannya Cuma Rp16 Miliar, Rusun ‘Cantik’ di Jawa Tengah Ini Berada di Pusat Eksekusi Mati, Khusus Untuk…

Maka dari itu, pada tahun 2013 lalu PLTGU Tambak Lorok ini sempat berhenti beroperasi.

Dirut PLN pada saat itu, Dahlan Iskan terpaksa mematikan pengoperasian instalasi gabungan ini.

Pemberhentian ini dikarenakan PLTGU ini menggunakan bahan bakar minyak karena tidak ada pasokan gas.

Baca Juga: Nilai Investasinya Rp37 Triliun, Smelter Nikel di Morowali Ini Diambil Alih oleh Perusahaan Singapura

Digunakannya bahan bakar minyak tersebut mengakibatkan kerugian yang dialami oleh negara.

Sementara itu, jika dimatikan sebelum dapat gas, pasokan listrik di Jawa tetap aman karena beban listrik masih bisa didukung oleh pembangkit listrik lain di Jawa.

Maka dari itu, mulai tahun 2014, pembangkit listik ini kebali beroperais dengan bahan bakar gas yang bersumber dari Gundih, Kepodang, dan CNG yang beroperasi saat beban puncak.

Baca Juga: Pendapatannya Naik Sekitar 7,3 Persen, Utang Perusahaan Tambang PT Vale Indonesia Tbk Semakin Membengkak hingga Segini

PLTGU Tambak Lorok sendiri terdiri dari 2 blok yang berkapasitas 2×516 MW dan PLTU berkapasitas 300 MW.

Fungsinya untuk mensuplai daya di sistem JTD sampai dengan 810 MW dengan beban puncak sistem JTD mencapai 4.182 MW.

Kini, terdapat pengembangan blok 3 Tambak Lorok yang memiliki kapasitas daya 780 Mw.

Baca Juga: Selamatkan Uang Negara Rp72,99 M, BPH Migas Gandeng Institusi Penegak Hukum untuk Awasi Penyimpangan BBM Sepanjang 2023

Biaya yang digunakan untuk proyek tersebut bernilai fantastis mencapai Rp4,8 triliun. ***

 

Rekomendasi