

inNalar.com – Berikut ini pembahasan lanjutan untuk materi kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9, yuk simak!
Kali ini kita akan lanjutkan pembahasan kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 pada halaman 138 139.
Pada buku Bahasa Indonesia kelas 9 halaman 138 139 ada pertanyaan tentang melengkapi struktur retorika teks diskusi Antitawuran.
Adanya kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 halaman 138 139 tentang melengkapi struktur retorika teks diskusi Antitawuran di artikel ini hanya bersifat sebagai referensi.
Sehingga kebenaran dari kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 halaman 138 139 tentang melengkapi struktur retorika teks diskusi Antitawuran di sini memang belum bisa dipastikan.
Inilah selengkapnya kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 halaman 138 139 tentang melengkapi struktur retorika teks diskusi Antitawuran.
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 138 139
Teks diskusi adalah sebuah teks yang menyajikan wawasan tentang suatu isu atau topik yang diambil dari beragam sudut pandang. Sebuah teks diskusi sejatinya dihadirkan untuk membangun referensi yang kuat dan kokoh bagi masyarakat dalam mempelajari suatu isu, bukan mendiskreditkan pendapat tertentu.
Sebagai sebuah karya sastra, teks diskusi disusun atas tiga struktur utama yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Adapun bagian isi terdiri dari setidaknya dua gagasan yang berbeda.
Baca Juga: Bocoran Preman Pensiun 7 Episode 5 di RCTI Malam Ini : Taslim Dihajar Kang Murad, Ajun Malah Kabur
Pembahasan
Pada kesempatan ini, soal meminta kita untuk menyajikan contoh teks diskusi tentang antitawuran. Berikut kakak akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Antitawuran
Pendahuluan
Jika ada masyarakat yang menyatakan tidak menentang tawuran, jangan heran jika ada masyarakat yang dengan tegas menyatakan bahwa mereka menolak tawuran. Kelompok yang menamakan diri antitawuran ini jumlahnya bahkan tidak sedikit. Kegiatan tawuran yang dianggap tidak bermanfaat pun dicoba untuk dilihat dari berbagai perspektif. Beberapa di antaranya adalah perspektif guru dan orangtua.
Sudut pandang pertama
Berbanding terbalik dengan kebiasaan sekelompok oknum pelajar yang kerap melakukan tawuran, nyatanya ada banyak pelajar yang menyatakan diri bersikap antitawuran. Kelompok pelajar ini umumnya sudah mengetahui secara jelas dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan tidak berfaedah tersebut dan dengan demikian memilih jalur yang berbeda.
Bagi para pelajar tersebut, memilih untuk bersikap antitawuran jauh lebih bermanfaat dibandingkan melakukan yang sebaliknya. Dengan menentang tawuran, mereka mendedikasikan diri untuk melakukan tindakan yang lebih bermanfaat, seperti belajar dan bekerja keras untuk mencapai prestasi dan mengukir masa depan yang lebih baik. Daripada menghabiskan waktu untuk kegiatan yang sia-sia, kelompok ini lebih peduli akan masa depan mereka. Meski mereka sendiri sadar betul bahwa tindakan dan pandangan mereka bukan berarti tidak mendapat tekanan dari pihak – pihak yang mendukung tindakan tawuran. Tak jarang mereka pun ‘terpaksa’ mengikuti pemikiran yang salah semata-mata untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun begitu, keberanian mereka untuk bersuara sendiri pun sudah layak mendapat apresiasi dari masyarakat.
Baca Juga: Begini Cara Mengonsumsi Pil KB yang Benar, Efektif Cegah Kehamilan dan Aman Bagi Kesehatan
Sudut pandang kedua
Tindakan kelompok ini tentunya didukung oleh para guru. Tawuran yang sejak lama menjadi keprihatinan seluruh masyarakat, terutama para guru, telah mendorong para guru untuk melakukan segala daya upaya untuk mendorong terciptanya pola pikir antitawuran di kalangan para pelajar. Setidaknya, menurut para guru, para siswa dan siswi mereka tidak akan berisiko mengalami kecelakaan atau gangguan keselamatan dengan mengikuti tawuran. Pendapat mereka tentunya bukan tanpa sebab. Sudah tidak sedikit kejadian tawuran yang berujung petaka bagi para pelajar yang terlibat di dalamnya. Hal ini tentunya membawa duka bagi dunia pendidikan, terutam apara guru. para siswa yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka untuk dibimbing mencapai masa depan yang cerah malah menjadi sia-sia hidupnya di tengah aksi tawuran.
Simpulan
Baik dari sudut pandang para guru dan siswa, sudah sepantasnya prinsip antitawuran mendapat dorongan dan apresiasi yang tinggi serta positif dari masyarakat. Pola pikir yang sangat mulia ini perlu didukung dan dikembangluaskan kepada seluruh masyarakat. jika perlu, para siswa yang menyatakan diri menolak prinsip tawuran dapat diberikan penghargaan untuk mendorong rekan-rekannya menganut pola pikir serupa.
Disclaimer:
Kunci jawaban yang ada di artikel ini belum pasti kebenarannya, karena hanya bersifat sebagai referensi.
inNalar.com tidak bertanggung jawab jika ada kesalahan jawaban. ***