

inNalar.com – Istiqomah diambil dari kata bahasa Arab yang mengandung makna konsistensi atau kekokohan dalam menjalankan sesuatu, termasuk dalam menjalankan ajaran agama Islam.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya gerakan kebaikan, yang dikemas dalam kata yang singkat namun memiliki makna yang sangat luas.
Rasulullah Saw bersabda:
“qul amantubillah fastaqim“, yang artinya “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah” (HR. Muslim).
Baca Juga: Gempa Bumi di Maroko Tewaskan 820 Korban Jiwa, Berikut Rincian Persebaran Wilayah yang Terdampak
Seperti yang telah disinggung di atas, makna hadits ini begitu luas, bahkan Ibnu Rajab berkata bahwa wasiat nabi Muhammad Saw ini sudah mencakup wasiat agama seluruhnya.
Di dalam keinginan untuk melakukan istiqomah akan terdapat banyak tantangan, tentu merupakan suatu hal yang wajar. Ustadz Khalid Basalamah berkata:
“biasanya kalau mau start ibadah atau kegiatan (positif) itu berat sekali, karena Anda belum punya mengalaman disitu.”
Baca Juga: Berakhir Bangkrut, Pabrik Besar di Jawa Timur Ini Ternyata Sudah Berdiri Selama 32 Tahun Lamanya
Kemudian beliau memberikan contoh mencoba istiqomah melakukan sholat malam. Hari-hari pertama memang berat, namun jika kita paksakan untuk selalu mengerjakan hal baik ini. Maka, selanjutnya akan jauh lebih mudah dikerjakan.
Salah satu kunci agar tetap istiqomah menurut ustadz Kholid Basalamah adalah dipaksakan, lama kelamaan akan menjadi seperti bola salju yang semakin membesar.
Jika merasa goyah, baca dan fahami akan manfaat atau keutamaan melakukan suatu hal yang ingin Anda lakukan terus menerus.
Dalam konteks praktik agama Islam, istiqomah berarti membiasakan diri untuk menjalankan ajaran Islam secara konsisten dan konstan.
Allah SWT sangat menekankan agar hamba-Nya istiqomah dalam menjalankan ajaran-Nya. Salah satu dalil yang menyebutkan tentang pentingnya istiqomah ini adalah dalam Surah Hud ayat 112:
“Maka tetaplah kamu berada di jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
Salah satu hal yang menghambat keistiqomahan seorang hamba adalah keberadaan setan yang membisikan sesuatu kepada manusia, agar manusia menjadi bagian dari golongannya di nerka.
Keberadaan syaitan sebagai musuh manusia telah disinggung dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang menegaskan hal ini adalah dalam Surah Al-A’raf ayat 27:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.
Ada beberapa hal yang harus kita lakukan dalam upaya menjaga istiqomah dalam mengamalkan ajaran Islam:
Jangan ragu untuk memulai praktik ibadah, walaupun mungkin merasa sulit pada awalnya. Rasulullah SAW memberi contoh bagaimana syaitan akan lebih sulit menggoda seseorang yang telah memulai ibadah dan berusaha untuk istiqomah.
Bisikan syaitan sering kali berupa godaan untuk melakukan dosa. Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 168 berfirman:
“Hai manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang ada di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh, dia adalah musuh yang nyata bagimu.”
Jika kita mampu menghindari dosa, syaitan akan kesulitan meletakkan rintangan dalam usaha kita untuk istiqomah.
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, yang terpenting adalah segera bertaubat kepada Allah SWT dan berusaha memperbaiki kesalahan. Allah sangat gembira jika hamba-Nya bertaubat, sebagaimana disebut dalam Hadis Qudsi:
“Demi kebesaran-Ku, sungguh Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba-Nya daripada seorang yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di tengah gurun.”
Orang yang mampu menjaga istiqomah dalam menjalankan ajaran Islam adalah orang yang telah mengenal Allah Swt dan berusaha sebaik mungkin untuk mengamalkan ajaran-Nya dengan konsisten.
Dan menghindari hal-hal yang dapat menjadi rintangan dalam upaya tersebut. Inilah esensi sejati dari ajaran agama Islam. ***