

inNalar.com – Masyarakat Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak lama lagi akan memiliki bandara baru kelas internasional.
Menariknya proyek terminal pesawat ini dibangun oleh Sultan Tambang.
Adapun perusahaan yang membangun bandara baru tersebut adalah PT Amman Mineral Nusa Tenggara.
Baca Juga: HUT ke-128 BRI, Nasabah Bisa Nikmati Promo Meriah di Berbagai Merchant
Sekedar informasi, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, dengan mengoperasikan tambang tembaga dan emas seluas 25.000ha yang terletak di Pulau Sumbawa.
Sebelum ini, mereka sejatinya telah memiliki landasan pacu untuk pesawat mengangkut tambang yang telah di eksploitasi di sekitar daerah NTB.
Namun, pemerintah akhirnya meminta pada perusahaan agar infrastruktur pesawat itu dapat dibuka untuk umum, guna meningkatkan pariwisata di sekitar wilayah yang dimaksud.
Dilansir inNalar.com dari ppid.sumbawabaratkab.go.id, satu hal yang membuat daerah tersebut sulit memajukan sektor pariwisatanya adalah dari akses transportasi yang tidak memadai.
Sementara itu, bandara ini sendiri letak tepatnya ada di Desa Kiantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat.
Sumbawa Barat sendiri sebenarnya terletak di daerah yang cukup strategis, karena dihimpit oleh banyak kawasan pariwisata.
Baca Juga: Telan Anggaran Rp180,9 Miliar, Flyover di Jawa Tengah Ini Bakal Jadi Pintu Gerbang Kota Semarang
Di antaranya dekat dengan Pulau Bali, kawasan wisata Pulau Lombok bahkan hingga Labuhan Bajo yang berada di Nusa Tenggara Timur.
Jika sesuai rencana, lahan untuk pesawat mendarat ini akan memiliki luas 100 hektar dan panjang landasan pacu (runway) sekitar 2.100 meter.
Pembangunannya sendiri telah dimulai sejak tahun 2022, serta secara simbolis telah dilakukan dengan pemberian penyerahan alat kerja dari Bupati Sumbawa Barat kepada Presiden Direktur PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).
Sedangkan untuk penyelesaiannya, diperkirakan pada tahun 2024 mendatang tempat pesawat berlabuh ini akan dapat mulai dioperasikan.
Namun karena bandara itu sendiri akan diperbesar hingga memncapai luas 100 hektar, ternyata pembangunan tersebut mengalami kendala.
Kendala yang dimaksud adalah masalah pembebasan lahan warga yang terkena dampak.
Sebab saat akan dilakukan pembebasan lahan di tempat tersebut, warga sekitar yang umumnya petani menolak adanya pembuatan bandara di sana.
Hal itu dikarenakan lahan yang akan dibebaskan merupakan tanah yang digunakan untuk mengubur ayah, ibu, kakek dan nenek moyang mereka alias pemakaman.
Namun seusai dilakukan mediasi, akhirnya para petani setuju dan pembangunan tempat pesawat berlabuh ini tetap dapat berjalan.
Sementara itu, untuk membangun infrastruktur pesawat ini, estimasi biaya yang dikucurkan adalah sekitar Rp 390 miliar.
Sedangkan nama yang saat ini digunakan untuk menyebut infrastruktur yang dibangun oleh sultan tambang emas ini adalah Bandara Kiantar.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi