

inNalar.com – Kalimantan Tengah ternyata memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa solusi berbasis alam terbesar di dunia.
Melalui Katingan Mentaya Project (KMP), perusahaan di Kalimantan Tengah ini sukses hasilkan cuan melalui perdagangan kredit karbon.
Meski awalnya ide bisnis ini dianggap di luar nalar, ternyata perusahaan di Kalimantan Tengah ini terbukti selamatkan dunia dengan proyeknya yang mampu cegah emisi karbon dioksida hingga 7 juta ton setiap tahunnya.
Baca Juga: IQAir: 10 Kota dengan Polusi Udara Terbersih Nomor 1 Mempunyai Level Udara di Angka 11, Dimana Ya?
Perusahaan yang bernama PT Rimba Makmur Utama ini sukses mewujudkan KMP sebagai proyek pelestarian lingkungan yang mendatangkan keuntungan melalui bisnis kredit karbon dalam pasar perdagangan karbon internasional.
Dilansir dari laman resmi perusahaan PT Rimba Makmur Utama, area konsesi konservasi lahan gambutnya seluas 157.875 hektare, dua kali lipat lebih luas dari wilayah Singapura.
Area konservasi hutannya melingkupi Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Hebatnya lagi, proyek perusahaan ini merangkul 35 komunitas desa atau sekitar 43 ribu warga yang tinggal di sekitar area konsesinya.
Artinya, upaya mewujudkan kehidupan lingkungan berkelanjutan, mewujudkan kesejahteraan masyarakat, serta usaha untuk mencegah emisi karbon dapat dilakukan sekaligus oleh perusahaan yang berada di Kalimantan Tengah ini.
Melalui Katingan Mentaya Project setidaknya terdapat upaya mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari 2 juta mobil setiap tahunnya.
Diketahui area konsesi lahan dalam Katingan Mentaya Project ini berlaku hingga 60 tahun ke depan. Penghitungan masa izinnya pun berlaku sejak tahun 2013.
Adapun dana yang digelontorkan untuk mendapatkan izin tersebut pun cukup fantastis, yakni sebesar Rp23 miliar.
Perusahaan Kalimantan Tengah melalui Katingan Mentaya Project ini melakukan konservasi hutan gambut yang luasnya disebut terbesar di Asia Tenggara.
Dengan melindungi kawasan hutan tersebut, perusahaan ini sama saja menjaga 176 spesies burung, 111 spesies ikan, 67 spesies mamalia, dan 45 spesies reptil yang tersebar di area hutan Kalimantan Tengah.
Bahkan terdapat pula 314 spesies tumbuhan yang berada di kawasan rawa gambut tersebut.
Dilansir dari bappebti.go.id, peluang bisnis yang bergerak di bidang perdagangan karbon di Indonesia sendiri sangatlah besar.
Potensi karbon yang bakal diserap oleh hutan yang ada di Indonesia bisa mencapai 25,773 miliar ton.
Bahkan, disebut pula oleh Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia atau yang disingkat dengan APHI, bahwa Indonesia miliki daya serap karbon hingga 5,5 giga ton CO2.
Dengan adanya potensi tersebut, nilai serap karbon Indonesia bisa menembus kisaran USD 105 miliar sampai dengan USD 114 miliar.***