Kualitas Pendidikan di Papua Rendah: Lebih dari 50 Persen Kelas Rusak Bahkan Gak Punya Toilet

inNalar.com – Provinsi Papua menjadi daerah dengan tingkat penyelesaian pendidikan paling sedikit di Indonesia.

Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pada tahun 2023 hanya 39,50 persen masyarakat Papua yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga SMA.

Hal tersebut terjadi karena ditemukannya kendala dalam sistem pendidikan hingga berdampak pada beberapa komponen pendidikan yang masih perlu diperbaiki.

Baca Juga: Terbelit Tunggakan Rp41 Miliar, Pabrik Kertas Tertua di Jawa Timur Ini Resmi Bangkrut

Kendala-kendala yang ditemukan pun beragam, seperti banyaknya sekolah yang tidak memiliki kecukupan air bahkan lebih dari 50 persen sekolah di Papua memiliki kondisi ruang kelas yang rusak.

Pada dasarnya kondisi ruang kelas perlu mendapat perhatian seperti kondisi sirkulasi udara dalam ruang kelas yang baik untuk memperlancar proses belajar.

Namun ternyata pada tahun ajaran 2023/2024 saja terdapat lebih dari setengah ruang kelas yang berada dalam kondisi rusak baik ringan atau sedang.

Baca Juga: Pernah Merajai Pasar Sejak 1912, Pabrik Rokok Legendaris di Jawa Timur Ini Akhirnya Dicaplok Asing

Kerusakan sekolah pun bisa disebabkan dari berbagai hal seperti buruknya perencanaan juga usia yang sudah tua bahkan terjadinya bencana alam.

Menurut data dari Kemendikbud, pada tahun ajaran 2023/2024 kondisi ruangan sekolah di Papua mengalami perbaikan untuk setiap jenjangnya jika dibandingkan dengan tahun ajaran sebelumnya.

Meski begitu, persentase ruang kelas dalam kondisi baik masih sekitar di Bawah 50 persen bahkan bisa mencapai 32 persen.

Baca Juga: Pecat 1.500 Karyawan, Pabrik Ban Terbesar di Cikarang Resmi Bangkrut Setelah Ditinggal Konsumen

Persentase ruang kelas yang mengalami kerusakan di Papua paling banyak pun ditemukan terjadi pada jenjang Pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada tahun ajaran 2023/2024.

Tidak hanya kondisi ruangan kelas yang belum dikategorikan baik. Kecukupan antara ruang kelas dan jumlah peserta didik pun perlu diperhatikan.

Di luar itu, banyak sekolah di Papua yang tingkat kecukupan airnya masih di level kurang bahkan tidak ada.

Baca Juga: Berdiri Sejak 1994, Pabrik Sepatu Raksasa di Jawa Barat Ini Chaos Gegara Terlilit Utang Miliaran

Hal ini merupakan poin yang tidak kalah penting karena ketersediaan air merupakan aspek penting dalam kegiatan sekolah.

Pada dasarnya standar kebutuhan sarana sanitasi air untuk tingkat SD minimum terdapat satu unit toilet untuk setiap 60 peserta didik laki-laki dan satu unit untuk setiap 50 peserta didik laki-laki.

Sedangkan untuk jenjang SMP-SMA minimum terdapat satu unit toilet untuk 40 murid laki-laki dan satu unit toilet untuk 30 murid perempuan.

Baca Juga: Bandung Kalah! Ini 5 Kabupaten Terpintar di Jawa Barat: Warganya Terkenal Cerdas

Namun kenyataannya di Papua masih terdapat sekolah yang tidak memiliki toilet. Hal ini perlu diperhatikan karena akan mengganggu kapasitas siswa belajar jika tidak dikelola dengan baik.

Pembangunan infrastruktur pendidikan ini termasuk indikator yang sangat penting dan termasuk bagian yang harusnya menjadi prioritas.

Pada dasarnya pembangunan infrastruktur pendidikan yang baik ini akan membangun sumber daya manusia masyarakat Papua yang lebih baik lagi.

Baca Juga: Jawa Timur Sentra Produksi Kentang Terbesar di Indonesia, Yuk Coba Resep Khasnya!

Karena infrastruktur pendidikan yang masih kurang, tingkat Pendidikan dan kualitas hidup masyarakat Papua pun relative rendah karena kurangnya pelayanan bermutu khususnya dalam dunia Pendidikan.

Indikator penting ini yang belum banyak diperoleh oleh masyarakat Papua terutama yang bermukim di daerah pedalaman.***

Rekomendasi