Konservasionis Ini Paling Berpengaruh di Dunia, Sukses Bangun Ekosistem Satwa Nyaris Punah di Kalimantan Timur

inNalar.com – Sejak pembangunan IKN di Kalimantan Timur semakin masif, banyak mata melirik sosok konservasionis satwa ini.

Konservasionis ini semakin dikenal publik berkat kontribusinya dalam menciptakan ulang ekosistem satwa terancam punah di Kalimantan Timur.

Bukan sekadar sosok konservasionis, dirinya pun menjadi saksi kunci bagaimana lanskap hutan Kalimantan Timur berubah dari masa ke masa.

Baca Juga: Kawasan IKN ini Didesain Pakar Smart City China, Rupa Megahnya Bakal Plek Ketiplek dengan Shenzhen?

Kisahnya bermula ketika dirinya menjadi bagian dari Stasiun Penelitian Wanariset di hutan hujan tropis Balikpapan pada 1985.

Sosok berpengaruh ini berangkat dari tanggungjawabnya melindungi hewan spesies primata terancam punah, salah satunya orangutan.

Namun seiring waktu berjalan ia semakin memperluas cakupan konservasinya, pemantauan hutan hingga upaya reforestasi pun menjadi bidang penanganannya.

Baca Juga: Kota Hutan IKN Dekat dengan Habitat Orangutan Kalimantan, Benarkah Pemerintah RI Tak Langgar Alam?

Ia menjadi salah satu saksi kunci bagaimana nasib satwa liar terlantar yang butuh penanganan khusus dari naungan manusia.

Sosok konservasionis tersebut bernama Willie Smits, seorang pemimpin organisasi perlindungan orangutan terbesar di dunia.

Willie berbagi pengalamannya pada saat dahulu menyaksikan betapa mengenaskannya satwa orangutan yang terlantar di hutan Kalimantan.

Baca Juga: Skor Indonesia All-Star vs UCL Legends Berakhir 10-11, OPPO Beri Apresiasi Perjuangan Tim Garuda

“Saya melihat ini ada beberapa orangutan yang tidak bisa kita kembalikan ke alam untuk hidup bebas, karena mungkin trauma, karena buta, karena sudah hilang tangan,” bebernya, dikutip inNalar.com dari perbincangannya bersama Rhenald Kasali.

Selain itu juga masih ada rentetan kondisi satwa lainnya yang menggerakkan dirinya membentuk yayasan perlindungan orangutan.

“Ada terlalu banyak peluru atau punya penyakit kronis. Jadi pernah disiksa oleh manusia di satu tempat,” imbuhnya.

Baca Juga: Berusia Lebih dari 450 Tahun, Sekolah Elit di Inggris Ini Gabungkan Fasilitas Modern dengan Bangunan Kuno Bergaya Victoria

Sederetan realitas menyedihkan itulah yang membuatnya mendirikan sebuah yayasan perlindungan orangutan di Kalimantan Timur.

Namanya adalah Bornoe Orangutan Survival Foundation (BOS), berdiri pada tahun 1991.

Willie Smits adalah sosok dibalik pembangunan ulang ekosistem orangutan di Kalimantan Timur.

Baca Juga: Biaya Asramanya Capai Rp1 Miliar, SMA Elit di Australia Ini Padukan Dua Kurikulum, Hasil Akademisnya…

Padahal kala itu, habitat satwa endemik di Kalimantan Timur tengah menyusut lantaran alihfungsi hutan menjadi perkebunan sawit yang kian marak.

Berkat upaya penciptaan ulang ekosistem hutan, dirinya pun berhasil menyelamatkan puluhan beruang madu hingga ratusan spesies burung liar di wilayah tersebut.

“Orang bisa menyaksikan bahwa betul dari lahan alang-alang yang paling gersang,” ujarnya.

“kita bisa lagi menciptakan habitat yang baru dimana sapai 163 jenis burung bisa lagi mendapat nafkah hidupnya,” ungkap Willie.

Bahkan demi ketenangan para satwanya, ia rela membeli lahan hutan dan membuat sebuah lembah yang menjadi tempat perlindungan alami bagi satwa endemik di Kalimantan Timur.

Dirinya pun memastikan bahwa hewan-hewan yang statusnya terancam punah hidup dengan aman dan terjaga dari kebisingan alat berat pembangunan IKN.

Hal tersebut dikarenakan adanya lembah alami yang akan membuat suasana sekitarnya tetap tenang secara alami.

Suara bising aktivitas pembangunan IKN dipastikannya tidak terdengar para satwa yang diketahui tinggal di sekitar pembangunan proyek.

Terkait megaproyek IKN, Willie pun sembat beberkan terdapat proyek yang sedikit memotong areal hutan habitat orangutan.

“Kalau (proyek) jalan tol memang memotong sedikit. Ada penggal cuma 1,5 hektare yang di luar,” ujarnya.

Namun bagian dalamnya dipastikan masih aman bagi satwa endemik yang tinggal di Kalimantan Timur.

Sosoknya yang berhasil reforestasi paru-paru dunia inilah yang membuatnya menjadi sosok konservasionis peling berpengaruh di dunia.***

Rekomendasi