Kokoh 100 Tahun, Jembatan Rel KA Banjar-Cijulang Sepanjang 310 Meter Kini Dinonaktifkan Sejak Krisis Moneter

inNalar.com- Rel KA sepanjang 310 menter yang menghubungan Banjar-Cijulang sudah tidak aktif sejak Tahun 1981 karena krisis monter.

Mengingat kembali perjalanan sejarah jalur kereta api (KA) Banjar-Cijulang yang tercatat sebagai jalur kereta terpanjang. Rel kereta api sepanjang 310 meter dan ketinggian 100 meter diatas permukaan tanah ini telah dinonaktifkan sejak tanggal 13 Februari 1982.

Jembatan rel kereta api (KA) berada di Desa Pamotan, Kalipucang, Pangandaran. Dibangun pada masa Kolonial Belanda, Jembatan ini berdiri pada tahun 1913-1916 yang menghubungkan Banjar-Cijulang.

Baca Juga: Sistem Canggih Bayar Tol Tanpa Stop Bakal Diberlakukan di Era Prabowo, Ternyata Mulainya dari Rute Bali yang Ini

Jembatan rel kereta api itu masih kokoh berdiri di dasar Lembah meskipun usianya telah mencapai 100 tahun, ini menjadi bukti keahlian Teknik Sipil di zaman itu. Jembatan ini dibangun dengan menggunakan mounting besi sebesar 1.63 ton dan dibuat dalam bentuk jenis rangka dengan lalu lintas di atas atau biasa disebut dengan half through truss.

Dampak dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1990-an begitu terasa dalam pengoperasian jalur KA Banjar-Cijulang. Jalur kereta ini telah tidak beroperasi lagi karena biaya operasional yang terlalu tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan dari pengoperasian kereta di jalur tersebut.

Pada awalnya, jalur ini dibangun berdasarkan usulan dari pemerintah Hindia Belanda, karena potensi hasil pertanian seperti palawija dan kopro yang melimpah di wilayah Ciamis dan sekitarnya.

Baca Juga: Pengumuman Gencatan Senjata di Lebanon, Ini Tanggapan Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell

Tujuannya adalah untuk memfasilitasi pengiriman produk pertanian sehingga dapat didistribusikan ke daerah lain dengan lebih mudah. Pada waktu itu, produk pertanian harus didistribusikan ke daerah lain dengan menggunakan gerobak.

Namun, metode ini kurang efektif karena cukup memakan waktu. Maka, banyak petani memilih untuk menyimpan hasil pertaniannya di rumah dalam jangka waktu yang lebih lama.

Wilayah sekitar tersebut dikenal sebagai daerah yang menghasilkan hasil pertanian dan perkebunan yang melimpah.

Baca Juga: Kualitas Tata Kelola Tak Diragukan, BRI Sabet Penghargaan ‘The Most Trusted Company 2024’

Oleh sebab itu, perlu adanya investasi dalam hal transportasi untuk mengirimkan hasil bumi tersebut; jalur kereta tersebut berperan sebagai sarana transportasi hingga tahun 1980-an.

Ketika melihat jembatan tersebut, teringat akan masa di mana orang-orang melewati rel kereta api yang masih aktif sambil menikmati pemandangan indah sekitarnya.

Di dekat jembatan kereta api Cikacepit, terdapat  terowongan yang panjangnya mencapai 100 meter. Apabila ingin menikmati pemandangan jembatan kereta api, para warga akan melintasi terowongan yang ada.

Di sepanjang jalur kereta pengandaran-cijulang, terdapat total 44 terowongan yang dapat dilalui. Beberapa di antaranya adalah Terowongan Batulawang sepanjang 281 meter, Terowongan Juliana sepanjang 147 meter, Terowongan Hendrik sepanjang 105 meter, serta Terowongan Wilhelma yang memiliki panjang 1116 meter. Menariknya, Terowongan Wilhelma saat ini masih menjadi terowongan terpanjang di Indonesia.

Namun, warga tetap menggunakan jalur tersebut untuk pergi ke Kampung Cimandala, Desa Pamotan, Kecamatan Kulipucang. Dalam melintasi jalur itu, Anda harus hati-hati dan sedikit memerlukan keberanian. Hal ini disebabkan oleh usia jembatan yang sudah sangat tua serta banyak bagian strukturnya yang telah diambil oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Dikabarkan jalur ini sedang direncanakan untuk dijadikan cagar budaya di daerah tersebut. Namun, hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai jalur KA Banjar-Cijulang ini. (Putri Fitratunnisah)

Rekomendasi