Kisah Unik Suku Pedalaman Papua: Ada Rumah Setinggi 50 Meter hingga Ancaman Kanibalisme

inNalar.com – Keindahan Papua sebagai wilayah Indonesia paling timur, tidak terlepas dari pesona flora, fauna, yang dimilikinya.

Memegang teguh ajaran nenek moyang, Papua diperkaya dengan suku-suku asli yang unik sebanyak 255 suku dengan bahasa berbeda-beda.

Salah satu suku asli yang terkenal di Bumi Cendrawasih ini adalah Suku Korowai, yang tinggal di Pegunungan Papua dan baru berinteraksi dengan dunia luar pada tahun 1974.

Baca Juga: Terbaik di Indonesia, Desa Wisata Baros Bandung Tawarkan Panorama Asri dan Sejuknya Pedesaan

Dilansir dari kanal YouTube @KabarPedia, mereka membangun rumah di atas pohon kokoh dengan ketinggian 15 hingga 50 meter yang diberi nama Rumah Tinggi.

Semua bahan untuk pembuatan rumah ini adalah bahan alami seperti kayu, kulit pohon sagu, dan daun hutan. Rumah pohon ini diikat dengan tali dari ranting atau akar yang kuat.

Pembuatan rumah pohon ini memakan waktu sekitar tujuh hari, dan dibangun sebelum melakukan ritual malam untuk mengusir roh jahat.

Baca Juga: Cuma 2 Jam dari Pekanbaru, Desa Dayun di Kabupaten Siak Riau Ini Sajikan Pesona Danau Terluas Kedua di Dunia

Rumah ini hanya dibangun pada masa-masa tertentu saja karena pembuatannya yang sulit, sedangkan saat ini Suku Korowai tinggal di rumah yang terbuat dari pohon-pohon kecil bernama Xaim.

Suku Korowai juga menggunakan hutan sebagai sumber kehidupan mereka, dengan cara berburu dan memasak secara tradisional

Diketahui, mereka memelihara anjing sebagai hewan peliharaan untuk berburu dan babi sebagai penunjuk kasta yang nantinya dikurbankan saat ritual khusus.

Baca Juga: Perkampungan Belanda Ternyata Masih Ada di Trenggalek, Jawa Timur, Lokasinya Dekat Gunung Wilis Lho

Selain itu, Suku Korowai cukup hidup terpencil sehingga membuat mereka sangat terisolasi dari dunia luar, salah satu contohnya adalah pengetahuan mengenai kuman dan penyakit.

Jika ada anggota suku yang meninggal akibat penyakit yang tidak mereka pahami, mereka percaya bahwa itu adalah ulah Khakua atau penyihir yang menyamar menjadi salah satu dari mereka.

Maka, melalui proses pengadilan, siapa pun yang terduga sebagai penyihir akan dihukum dan menjadi santapan suku tersebut, sebagai cara untuk benar-benar memusnahkan Khakua.

Tidak hanya orang yang dianggap Khakua atau melanggar peraturan, tetapi juga orang yang sakit parah dan tak kunjung sembuh dapat menjadi korban kanibalisme suku ini.

Mereka mungkin menganggapnya sebagai cara untuk mengakhiri penderitaan si penderita penyakit yang tidak dapat sembuh.

Perilaku kanibalisme ini menjadikan Suku Korowai yang memiliki 3.000 penduduk menjadi suku langka di dunia yang mempraktikan kanibalisme.

Namun, saat ini banyak dari mereka mulai membuka diri dan hidup berdampingan dengan masyarakat modern di Papua.

Keterbukaan ini membawa mereka untuk lebih memahami dunia luar dan mungkin mengurangi praktik kanibalisme.***

Rekomendasi