

inNalar.com – Kasus video syur 47 detik yang viral tidak hanya menyeret nama Rebecca Klopper, tapi juga kekasihnya Fadly Faisal.
Kelanjutan nasib asmara keduanya kini dipertanyakan usai video itu menyebar. Apakah mereka akan tetap bersama atau justru putus di tengah jalan.
Pasalnya, hal serupa juga pernah terjadi pada beberapa selebritis. Nasib asmara mereka ada yang kandas di tengah jalan.
Sebut saja kasus video syur yang menjerat Ariel Noah, Luna Maya dan Cut Tari pada 2010 silam.
Baca Juga: Segini Total Kekayaan Firli Bahuri, Ketua KPK yang Diduga Selingkuh dengan Salsabila Syaira
Akibat kasus tersebut Cut Tari dan suaminya Yusuf Subrata memutuskan untuk bercerai.
Psikolog Sani Budianti mengungkapkan pandangannya kepada tim Hot Shot SCTV mengenai nasib asmara pasangan tersebut.
Kandas tidaknya hubungan asmara Rebecca Klopper dan Fadly Faisal tergantung kesiapan mental masing-masing.
Baca Juga: Panik Usai Sadar Kamera, Mario Dandy Satrio Sontak Buru-Buru Pasang Borgol Ties
Jika ada yang tidak siap maka mereka dipastikan akan putus. Sebaliknya, hubungan akan tetap langgeng jika mereka siap menerima pasangan masing-masing.
Sani mengatakan nasib asmara Rebecca dan Fadly tidak bisa diprediksi karena kesiapan mental orang berbeda-beda.
Ia kemudian menjelaskan tentang efek yang didapat ketika seseorang kedapatan memiliki video syur.
Baca Juga: Ketua KPK Firli Bahuri dan Presenter Cantik Salsabila Syaira Diduga Diam-Diam Check in Hotel
Korban kasus tersebut akan mengalami masalah berat. Yang jelas mereka akan mendapat tekanan dari publik.
Korban akan merasa tidak nyaman, stress, menarik diri dari pergaulan, tidak bisa tidur, mood terganggu dan lain sebagainya.
Sani juga mengatakan tekanan akibat kasus tersebut tidak hanya kepada korban, tapi juga orang terdekatnya yaitu keluarga dan pasangan.
Baca Juga: Usai Diduga Jadi Simpanan Ketua KPK, Salsabila Syaira Langsung Aktifkan Mode Private Instagram
Langkah pertama yang harus dilakukan orang terdekat jika terjadi kasus tersebut adalah mensupport mereka secara mental.
Keluarga dan pasangan perlu menenangkan dan merangkul korban sehingga mereka bisa melewati masa sulitnya. *** (Dayanti)