Kiprah Orang Palembang Dari Sriwijaya untuk Nusantara, Dahulu Jadi Penguasa Jalur Perdagangan

 

InNalar.com – Palembang tidak seperti Yogyakarta atau Solo yang begitu populer dalam urusan dunia politik di Indonesia.

Akan tetapi, Palembang memiliki peran yang besar di masa lalu yakni menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya yang memiliki pengaruh besar.

Artikel ini ditulis oleh Jannes Eudes Wawa, wartawan senior mengenai Kiprah Orang Palembang, dari Sriwijaya untuk Nusantara.

Baca Juga: Penantian 2 Tahun Terbayarkan! Kota Solo Berhasil Masuk Circle Jejaring Kota Kreatif UNESCO di Tahun 2023

Melihat dari sejarah, Sriwijaya pula menjadi kerajaan maritim pertama dan terbesar di Indonesia.

Dalam sebuah prasasti yang ditemukan di kampung Kota Kapur, Desa Penagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, pada tahun 1892 tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.

Tulisan tersebut mengandung beberapa kata yang dibaca sebagai Sriwijaya.

Baca Juga: Aksi Bela Palestina Akan Digelar di Monas, Menlu RI dan 2 Juta Orang Disebut Bakal Hadir, Tertarik Ikut?

Temuan itu juga menjelaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya berkembang pada abad ke-7. Di masa tersebut, para musafir asal China dan India cukup banyak mengunjungi Kepulauan Nusantara.

Berdasarkan buku berjudul: “Kedautan Sriwijaya: Perjalanan Suci” yang diterbitkan Kemendikbud RI, menyebutkan bahwa pada 29 November 1920 ditemukan prasasti lain oleh CJ Batenburg di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan.

Persisnya di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi.

Baca Juga: 4 WNI dan 1 Istri WNI Berhasil Dievakuasi dari Gaza, Menlu RI: Perjalannnya Bukan Hal yang Mudah!

Prasasti ini memberikan petunjuk yang semakin kuat tentang Kerajaan Sriwijaya. Dalam prasasti tersebut tertulis bahwa Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang pada 16 Juni 682 masehi.

Penulisan nama lengkap sang pendiri, yakni Daputra Hyang Jayanasa terdapat dalam Prasasti Talang Tuwo. Prasasti Talang Tuwo ditemukan pada 17 November 1920 oleh Alwi Lihan, petani di Dusun Meranjat, Palembang.

Kuasai jalur perdagangan

Kerajaan yang berpusat di Palembang atau tepi Sungai Musi itu memiliki pengaruh yang sangat luas hingga Singapura, Malaysia, Thailand bagian Selatan.

Melalui penguasaan wilayah yang didukung dengan letak yang strategis ini, membuat  Kerajaan Sriwilaya memiliki peran yang vital dalam perdagangan nasional dan internasional.

Belum lagi kehadiran Sungai Musi dengan yang begitu lebar menjadi urat nadi dalam perlintasan pelayaran dan perdagangan.

Hal ini didukung adanya sembilan sungai utama yang bermuara di Sungai Musi yang disebut sebagai Batanghari Sembulan.

Adanya Batanghari sembilan menambah semarak jalur pelayaran dan perdagangan komoditas.

Kesembilan sungai itu adalah Sungai Kikim, Sungai Lakitan, Sungai Rawas, Sungai Lematang, Sungai Kelingi, Sungai Enim, Sungai Ogan, Sungai Komering dan Sungai Banyuasin.

Jalur perdagangan laut dunia yakni dari utara ke selatan dan dari timur ke barat atau sebaliknya berada dalam pengendalian Kerajaan Sriwijaya.  

Misalnya, Selat Malaka. Jalur ini merupakan urat nadi perdagangan di Asia Tenggara, bahkan dunia. Pelayaran kapal dagang dari China menuju India atau sebaliknya harus melewati Selat Malaka.

Kondisi ini yang membuat Kerajaan Sriwijaya begitu berjaya pada masanya. Menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara.

Hasil bumi andalan antara lain kapur barus, mutiara, rempah-rempah, kayu, karet, timah, emas, perak, gading gajah dan lainnya.

Kekayaan ini menjadi daya tarik yang besar bagi para saudagar di China, Persia, India, Arab dan negara-negara Eropa lainnya untuk menjalin hubungan dagang sekaligus melakukan transaksi bisnis.

Kerajaan mendapatkan banyak pemasukan dari pajak kapal-kapal dagang yang melintas dan hubungan bisnis internasional tersebut. Kehidupan masyarakatnya pun cukup baik dan sejahtera.

Pihak kerajaan juga membangun angkatan laut yang kuat. Tujuannya untuk menjaga stabilitas kerajaan serta keamanan sekaligus mengontol pelayaran kapal-kapal niaga.

Hal ini otomatis memberikan keamanan dan kenyamanan pelayaran sehingga mendorong kapal-kapal dagang menyinggahi wilayah Sriwijaya untuk melakukan transaksi perdagangan.

Para pedagang menyinggahi Palembang dalam jangka waktu yang lama karena menunggu pasang surut air laut serta perubahan arah angin.

Hubungan Palembang dengan daerah-daerah lain sejak dahulu adalah hubungan dagang yang berdasarkan perjanjian kontrak. Palembang tidak mau menerima monopoli.

Sehatkan bumi

Yang menarik dari Prasasti Talang Tuwo adalah di dalamnya mengisahkan tentang pembangunan taman Sri Ksetra oleh raja Sri Baginda Sri Jayanasa yang merupakan raja Sriwijaya pada abad ke-7.

Dalam prasasti itu juga berisi titah sekaligus amanah raja kepada rakyatnya agar memperindah wilayah permukiman, perkebunan, air, kolam dan lainnya.

Raja memerintahkan untuk menanam pohon, seperti kelapa, pinang, aren, sagu dan lainnya, termasuk bambu, waluh, pattum.

Tujuannya untuk kesejahteraan masyarakatnya. Semua rakyatnya dapat terhindari dari kelaparan. Kehadiran tanaman yang didukung dengan pohon pelindung otomatis membuat lingkungan lebih hijau dan sehat.

Perintah tersebut secara tidak langsung dapat ditafsirkan bahwa lingkungan hidup menjadi perhatian utama dari pembangunan yang dijalankan Kerajaan Sriwijaya.

Misi utama di balik itu adalah menyelamatkan bumi dan manusia dari segala malapetaka.

Hutan bambu, misalnya, mampu menurunkan suhu udara hingga lima derajat. Bahkan, setiap rumpun bambu juga mampu menyimpan air dalam tanah hingga 3.000 liter.

Lebih dari itu, setiap seorang wajib memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masa depan lingkungan hidup. Harus memiliki semangat yang besar dalam menjaga, melestarikan dan menyehatkan bumi.

Krisis lingkungan yang terjadi saat ini yang telah mengakibatkan bumi kian mendidih adalah dampak dari kelalaian para pemimpin selama ini dalam menjaga bumi.

Krisis ini akan semakin parah, sebab keberpihakan para pemimpin kepada upaya penyelamatan lingkungan belum optimal. Masih sekedar seremoni. Hanya sebatas basa-basi.

Sudah saatnya, menjadikan semangat pendiri Kerajaan Sriwijaya sebagai motivasi  menyelamatkan negeri kita dari krisis lingkungan dan krisis lainnya.

Tugas kita bersama saat ini dan ke depan adalah terus menggelorakan semangat Palembang ini. (bersambung)***

Rekomendasi