Kilas Sejarah Hari Valentine 2022: Kengerian Kota Dresden saat Dihujani Bom oleh Sekutu Pada Tahun 1945


inNalar.com – Pada 13 Februari 1945, para tawanan perang Amerika yang sedang ada dalam penjara jerman, mendengar sirine api di kota Dresden menderu tepat di atas kepala mereka.

Penjaga kamp tawanan perang Jerman, sesaat kemudian memindahkan mereka ke dalam loker daging. Ketika mereka kembali ke luar dari loker, “kota itu telah hilang”, kenang penulis dan kritikus sosial Kurt Vonnegut (salah satu tawanan tersebut) dilansir dari History.com.

Dalam kampanye yang dimulai pada 13 Februari 1945, pesawat Inggris dan AS mengebom Kawasan kota Dresden dengan bahan peledak konvensional dan pembakar. Ini menyebabkan badai api raksasa yang menewaskan hingga 25.000 orang seketika, sekaligus menghancurkan pusat kota bersejarah tersebut.

Baca Juga: Hari Valentine 2022, Simak Kumpulan Ucapan Paling Romantis untuk Pasangan di Sini 

Serangan Sekutu tersebut terjadi kurang dari sebulan, setelah sekitar 19.000 tentara AS tewas dalam serangan terakhir Jerman di Pertempuran Bulge. Tragedi ini juga berlangsung tiga minggu setelah penemuan mengerikan tentang kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Nazi di Auschwitz.

Sebagai pusat utama jaringan kereta api dan akses darat bagi Nazi Jerman, penghancuran Dresden dimaksudkan untuk mematikan beberapa fasilitas penting milik Jerman. Pengeboman oleh sekutu ini juga bertujuan untuk menyumbat semua rute transportasi yang saat itu penuh dengan kerumunan pengungsi.

Kota timur Dresden, yang dijuluki sebagai “Florence of Elbe” karena arsitektur Baroknya, telah menjadi simbol kehancuran besar-besaran di penghujung Perang Dunia II. Seperti halnya kota Coventry pasca-perang Inggris. Pengeboman Dresden juga dimaksudkan untuk meneror penduduk sipil secara lokal dan nasional.

Baca Juga: Mencari Kuliner Hidden Gems di Bandung? Mungkin Warung Serojabake ini Cocok Banget dengan Kamu

Pada saat Vonnegut dan yang lainnya bersembunyi di loker daging, pesawat Blind Illuminator milik Skuadron Komando Pengebom Inggris telah menghujani Dresden dengan bahan peledak dan bahan bakar. Kemudian, pesawat “penanda visual” menukik rendah untuk menjatuhkan ribuan suar dan penanda sasaran.

Formasi serangan utama kemudian mengikuti, dan lebih dari 500 pesawat pembom berat “Lancaster” yang sarat dengan bahan peledak dan pembakar, menghujam Kawasan kota dengan brutal.

Angkatan Udara Ke-8 AS menyerang keesokan harinya dengan 400 ton bom, untuk kemudian kembali melancarkan serangan dengan 210 pesawat pembom pada 15 Februari. Sementara dengan hancurnya Luftwaffe Jerman dan pertahanan anti pesawatnya, Royal Air Force Inggris hanya kehilangan enam pesawat.

Baca Juga: Jelang Hari Valentine 2022, 5 Rekomendasi Film Romantis untuk Ditonton Bersama Pasangan

Penghancuran besar-besaran itu, menyebabkan ribuan api kecil menyatu menjadi badai api besar yang menciptakan angin kencang serta menyedot oksigen. Akibatnya banyak fasilitas umum dan militer yang hancur diterpa badai api bom, serta pemandangan mengerikan karena banyaknya mayat yang terbakar hangus bergelimpangan.

Dengan jumlah kematian yang begitu besar itu, tragedi penghancuran Kota Dresden justru tak sepopuler Hiroshima-Nagasaki, setidaknya dalam sejarah perang “pemboman strategis” di berbagai kota besar. Sementara sebagian besar kota di Jerman sendiri telah diratakan pada tahun 1945, yang mengakibatkan tingkat kematian dan tingkat kehancuran yang lebih tinggi.

Pemboman Hamburg pada Juli 1943, bahkan telah menghasilkan badai api besar pertama di Jerman dan menewaskan lebih dari 30.000 warga sipil. Sementara Blitz (Serangan Cepat) Jerman atas Inggris, setidaknya telah banyak dikenal dan bahkan sudah diangkat ke dalam banyak buku dan film.

Baca Juga: Jangan Bingung, Ini 10 Ucapan Romantis Hari Valentine 2022 Bahasa Inggris dan Terjemahan

Sebelumnya, serangan Luftwaffe di kota-kota Eropa Timur seperti Beograd juga menewaskan lebih dari 17.000 orang. Kemudian ada serangan Warsawa yang mencatatkan hingga 25.000 korban tewas, jauh lebih mematikan setidaknya setelah tragedi bom nuklir di Hirosima-Nagasaki.

Namun yang terjadi di Dresden, dengan skala kematian dan kehancuran yang tinggi, tampaknya tidak bisa dibandingkan dengan kesaksian Kurt Vonnegut. Ia yang kemudian ditugaskan ke kru pembersihan sanitasi saat peristiwa pengeboman terjadi, harus menggali tempat perlindungan dan ruang bawah tanah yang penuh dengan banyak orang. Yang secara bersamaan juga banyak mengalami gagal jantung untuk kemudian meninggal karena kehabisan oksigen

Perkiraan awal tentang jumlah korban yang tewas, tampaknya menunjukkan bahwa Pemboman Dresden benar-benar kejam. David Irving dalam bukunya tahun 1963, The Destruction of Dresden, bahkan berani mengklaim bahwa pemboman itu adalah “pembantaian tunggal terbesar dalam sejarah Eropa.”

Baca Juga: Valentine Day 14 Februari, Ketahui Sejarah Tragis Peringatan Hari Kasih Sayang Ini Sebelum Merayakannya

Irving memperkirakan antara 150.000 hingga 200.000 jumlah kematian dalam tragedi kehancuran kota Dresden tersebut. Namun pernyataan Irving yang mengatakan bahwa Dresden adalah “Hiroshima Jerman” dengan cepat menuai kritik serius, bukan hanya karena kurangnya bukti, tetapi juga karena mengabaikan Holocaust.

Irving sendiri kemudian mendapatkan ketenaran, bahkan terjerat hukuman pidana sebagai penyangkal holocaust.

Sebagai tindakan preventif untuk mencegah ideologi sayap kanan yang mengeksploitasi spekulasi tentang jumlah korban tewas, maka Pemerintah Kota Dresden membentuk komisi sejarah pada tahun 2004. Ini dilakukan untuk menghasilkan data yang lebih tepat lewat penelitian sejarah, militer, forensik dan arkeologi.

Baca Juga: 5 Kejutan di Hari Valentine 2022 yang Sederhana dan Murah Namun Berkesan Buat Pasangan, Auto Makin Disayang

Pada 2010, Komisi Sejarah Kota Dresden menerbitkan perkiraan revisi tentang jumlah korban tewas pada Tragedi Dresden, yaitu sekitar 22.700 hingga 25.000 jumlah orang yang tewas.***

Rekomendasi