Kilas Ramadhan 2022, Apa itu Golongan Santri dan Abangan? Simak Varian Keagamaan di Kalangan Orang Jawa Ini

inNalar.com –  Telaah terhadap golongan santri dan abangan memang penting, khususnya untuk orang yang hendak mengetahui dengan seksama perkembangan Islam di Jawa.

Kedua golongan ini memperhatikan varian beragama yang secara tipologi berbeda, yaitu santri dan abangan. 

Kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang mendalami agama Islam dan orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yang saleh).

Baca Juga: 20 Link Twibbon Ramadhan 2022, Sambut Ramadhan dengan Kreativitas

Unsur-unsur yang dimiliki seorang santri yang berperan dalam kehidupannya yaitu iman, Islam, dan ihsan.

Semua ilmu tentang Iman, Islam, dan Ihsan dipelajari di pesantren agar menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh- sungguh.Berpegang teguh kepada aturan Islam, serta dapat berbuat ihsan kepada sesama.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, santri adalah mereka yang berpegang teguh kepada Islam yang benar sesuai dengan ajaran dalam Al-Qur’an.

Baca Juga: 3 Tradisi Unik Menyambut Bulan Ramadhan di Indonesia, Salah Satunya Mandi Pakai Jeruk Nipis

Menurut Clifford Geertz varian santri ini meliputi ritual-ritual pokok agama Islam, seperti kewajiban shalat lima waktu, shalat jumat di Masjid, berpuasa selama bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

Ia juga dimanifestasikan dalam satu komplek organisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Masyumi, Nahdatul Ulama.

Di sisi lain, abangan adalah sebutan untuk golongan penduduk  Jawa yang beragama Islam, namun mempraktikkan Islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan golongan santri yang lebih ortodoks.

Baca Juga: Menlu Rusia Sebut AS Terang-terangan Menyatakan Perang dengan Vladimir Putin

Pendapat lainnya ialah bahwa kata abangan diperkirakan berasal dari bahasa Arab “ aba’an”. Lidah orang Jawa membaca huruf ‘ain menjadi ngain.

Arti aba’an kurang lebih adalah “yang tidak konsekuen” atau “yang meninggalkan”.

Jadi para ulama dulu memberikan julukan kepada para orang yang sudah masuk Islam tapi tidak menjalankan syari’at dengan sebutan kaum aba’an atau abangan.

Baca Juga: Simak Jadwal Imsak dan Buka Puasa selama Satu Bulan Penuh untuk Wilayah Bangkalan

Saat ini abangan dianggap lebih cenderung mengikuti sistem kepercayaan lokal yang disebut adat daripada hukum Islam murni (syariah).

Dalam sistem kepercayaan tersebut terdapat tradisi-tradisi Hindu Budha dan animisme. Satu ciri abangan adalah sikap mengesampingkan ajaran agama dan hanya terpesona oleh perincian-perincian upacara.***

Rekomendasi