Khutbah Jumat Singkat Menarik Pekan Ini, Tema Muamalah dengan Non Muslim, Tepat Sekali Ada Isu Rendang Babi

inNalar.com – Khutbah Jumat singkat pilihan pekan ini yang paling bagus yaitu tema muamalah dengan non Muslim, ini sesuai terkait ramainya isu kuliner Minang yaitu rendang tetapi berbahan dasar babi, hal ini menuai pro dan kontra.

Terlepas dari perdebatan rendang babi boleh atau tidak, Khutbah Jumat singkat ini mengawali pembahasan dengan penjelasan terkait keniscayaan dalam kehidupan di dunia ini, manusia memiliki latar belakang yang berbeda, termasuk agama.

Namun bukan berarti perbedaan itu membenarkan umat Islam untuk berbuat tidak adil atau semena-mena, Khuutbah Jumat singkat ini mengungkap bahwa Islam sangat toleran terhadap orang-orang yang memiliki keyakinan lain.

Baca Juga: Heboh Rendang Babi, Ustadz Adi Hidayat Skak Mat Gus Miftah soal ‘Sejak Kapan Rendang Punya Agama?’

Khutbah Jumat singkat menyebutkan Rasulullah SAW saat di Madinah hidup berdampingan dengan damai dan aman bersama suku serta agama berbeda, ada Yahudi serta Nasrani, semua di mata hukum sama ketika itu.

Begitulah juga yang sebenarnya diambil nilainya oleh negara Indonesia saat ini, Khutbah Jumat singkat juga menjelaskan terkait NU yang mengeluarkan keputusan untuk mengatur hubungan tema muamalah dengan non Muslim.

Dikutip inNalar.com dari laman NU pada Rabu, 22 Juni 2022 Khutbah Jumat singkat mengungkapkan bahwa NU menyebut nonmuslim dengan istilah muwathin atau warga negara yang sama dengan umat Islam dan agama lainnya di Indonesia.

Baca Juga: Khutbah Jumat Bulan Dzulqadah yang Menyentuh Hati, Tema Pentingnya Ilmu Agama di Era Kini

Khutbah Jumat I

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْعَظِيْمِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كُنِّيَ بِأَبِي الْقَاسِمِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ .

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Marilah kita awali khutbah Jumat pada siang hari ini dengan memanjatkan puji kepada Allah swt dengan bacaan hamdalah, alhamdu lillahi rabbil ‘alaamin.

Sebab, segala puji pada hakikatnya adalah milik-Nya. Shalawat dan salam, kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan juga semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya.

Dan kelak, kita akan mendapatkan syafaatnya di akhir zaman.

Baca Juga: Zaman Neolithikum dan Megalithikum: Ciri-Ciri, Manusia Pendukung dan Hasil Kebudayaan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Sebagai umat Islam, kita harus senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Siapa yang hari ini masih sama kadar keimanan dan ketakwannya dengan hari sebelumnya adalah orang yang merugi.

Sementara yang beruntung adalah dia yang mampu menjadi lebih baik setiap harinya.

Selain senantiasa untuk meningkatkan ibadah kita kepada Allah swt, di antara bentuk ketakwaan yang perlu kita tingkatkan adalah menghindari segala yang dilarang-Nya.

Salah satu hal yang dilarang adalah mengolok-olok orang lain dan segala hal yang berkaitan dengannyaز Kita adalah manusia yang sejatinya diciptakan sama sebagaimana manusia lainnya.

Baca Juga: Fast Fashion, Sisi Gelap Industri Busana? Begini Sejarah dan Dampak Negatif Terhadap Kehidupan Manusia

Tidak ada perbedaan di antara kita di hadapan-Nya kecuali ketakawaan kita.

Namun, siapa yang mampu menilai ketakwaan? Tidak ada lain, kecuali hanya Allah swt. Manusia tidak berhak menilai seseorang baik atau buruk.

Apalagi sampai mengecap orang tersebut dengan stempel negatif dengan segala macam tuduhan atau ejekan yang justru menimbulkan kegaduhan, kontraproduktif.

Allah swt tidak melarang kita untuk dapat berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa saja yang tidak memerangi kita.

Hal tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah Ayat 8 berikut.

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu.”

Baca Juga: Gubernur DKI Jakarta Bangun Kampung Susun Bayam, Anies: Alhamdulillah, Salah Satu Janji akan Tertunaikan

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: Ayat 8)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Suatu keniscayaan, kita hidup dengan orang yang memiliki latar belakang suku, bangsa, bahasa, hingga agama berbeda.

Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi dasar untuk membenci mereka yang tidak sama. Perbedaan itu juga tidak bisa kita jadikan pijakan untuk berbuat semaunya sendiri, berpihak tanpa keadilan.

Agama Islam yang diajarkan Rasulullah saw adalah agama yang toleran dengan semua perbedaan. Bahkan, Rasulullah saw mendirikan negara yang disebut Madinah, sebuah wilayah yang terdiri dari beragam suku dan agama.

Baca Juga: Beginilah Kehidupan Bangsa Arab Pra Islam, Alasan Disebut Sebagai Jahiliyah dan Asal Mula Suku Badui

Rasul tidak membedakan umat Islam dengan umat Nasrani maupun Yahudi. Semua di mata negara adalah sama. Pun di Indonesia saat ini.

Selagi orang tersebut berstatus sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), mereka memiliki hak yang sama di hadapan negara, baik itu beragama Islam, Kristen, Konghucu, Buddha, Hindu, atau agama lainnya.

Mereka yang bersuku Dani, Asmat, Batak, Minang, Jawa, Sunda, ataupun Betawi juga tidak memiliki perbedaan di mata negara.

Bahkan, Nahdlatul Ulama mengeluarkan sebuah keputusan yang sangat penting dalam kontek hubungan masyarakat Muslim dan Non-Muslim di hadapan negara, yakni sama-sama warga negara (muwathin).

Dengan begitu, konsekuensi hukum yang didapat di antara semua warga sama, tanpa pandang bulu agama ataupun suku.

Baca Juga: Profil Bilqis Prasista Mulai dari Umur, Rekam Karir, hingga Biodata Putri Legenda Bulu Tangkis Indonesia

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai seorang Muslim untuk menjaga hubungan baik kita dengan sesama warga negara, terlebih terhadap tetangga kita, meskipun berbeda agama.

Sebab, mereka adalah orang terdekat kita. Jika terjadi sesuatu di rumah, tetangga inilah orang pertama yang perlu mengambil tindakan.

Sebagai ibrah, kita perlu belajar dari Imam Hasan al-Bashri.

Selama 20 tahun, beliau menampung tetesan air seni tetangganya yang bocor di rumahnya.

Tetangganya yang non-Mengetahui hal tersebut sudah terjadi 20 tahun tanpa pernah ada pembicaraan dari Sang Imam membuat hati non-Muslim tersebut terenyuh.
Sikapnya tersebut membuat tetangganya memeluk agama Islam. Perilaku Imam Hasan al-Bashri ini mengikuti sebuah hadits Nabi Muhammad saw.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Tasbih Menurut Buya Yahya, Hadits Shahih Meski Ada yang Sebut Dhaif

مَنْ أَذَى ذِمِّيًّا فَقَدْ أَذَىنِيْ وَ مَنْ أَذَىنِيْ كُنْتُ خَصْمَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Siapa yang menyakiti orang kafir dzimmi (kafir yang tidak memerangi umat Islam), maka sungguh ia telah menyakitiku.

Dan siapa yang menyakitiku, aku akan menjadi musuhnya di hari kiamat.” Semoga kita semua diberikan kemampuan oleh Allah swt untuk senantiasa berlaku adil kepada siapapun tanpa pandang bulu.

Kita juga berharap agar Allah swt memberikan kita sifat tidak tega untuk membenci apalagi menyakiti orang lain.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Baca Juga: Daftar 4 Klub yang Lolos ke Perempat Final Piala Presiden 2022, Lengkap dengan Jadwal Pertandingan

Khutbah Jumat II

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.

أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Khutbah Jumat singkat ini disusun oleh Ustadz Syakir NF, alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]