Khutbah Jumat Edisi Desember Terbaru: Belajar Meneladani Sifat dari 3 Binatang yang Disebutkan dalam Al-Quran

inNalar.com – Berikut adalah contoh teks khutbah Jumat edisi terbaru di bulan Desember.

Teks khutbah Jumat kali ini mengangkat tentang belajar meneladani sifat dari makhluk kecil ciptaan Allah SWT.

Dari teks khutbah ini akan diterangkan bahwa Allah SWT menjelaskan dalam Al-Quran setidaknya ada tiga binatang kecil yang menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Quran.

Baca Juga: Cara Mudah Melakukan Self Healing untuk Menyembuhkan Kesehatan Mental ala dr. Aisyah Dahlan

Materi khutbah Jumat ini bisa menjadi bahan referensi bagi para khotib sholat Jumat khususnya yang bertugas.

Menyampaikan isi kandungan yang bermanfaat dan menginspirasi sangat lah penting untuk khatib membacakan khutbah Jumat.

Contoh teks khutbah Jumat ini sangat berguna di kehidupan sehari-hari untuk para jamaah sholat Jumat bila Khatib sholat Jumat sampainya.

Baca Juga: Pengertian, Tujuan dan Langkah Self Healing dalam Islam Disampaikan dr. Aisyah Dahlan: Terapi Diri Sendiri

Bertema yang sederhana namun penuh makna mendalam yang sangat cocok untuk dibawakan saat khutbah Jumat berlangsung.

Dikutip inNalar.com dari NU Online, berikut contoh teks khutbah Jumat bisa dijadikan referensi dan mudah dipahami oleh jamaah.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Setidaknya ada tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Quran, yaitu Al-Naml (semut), Al-‘Ankabut (laba-laba), dan Al-Nahl (lebah).

Baca Juga: Ini Pemain yang Tampil Gemilang di Piala Dunia 2022 Tapi Negaranya Gak Lolos, Salah Satunya Ada Pemain Chelsea

Bila kita amati secara seksama, masing-masing binatang ini memiliki karakter khas yang bisa menjadi kiasan dari kehidupan manusia.

Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun.

Kelobaannya sedemikian besar sehingga ia berusaha–dan seringkali berhasil–memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.

Baca Juga: Prediksi Belanda vs Amerika Serikat Piala Dunia 2022: Susunan Pemain dan Link Live Streaming

Dalam surah Al-Naml antara lain diuraikan sikap Fir’aun, juga Nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh manusia manapun sebelum dan sesudahnya.

Ada juga kisah seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.

Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba: Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh. Sebagaimana disinggung oleh surah Al-Ankabut ayat 41:

Baca Juga: Gawat! Jung Hae In Kehilangan Satu Matanya di Drama Connect, Cek Sinopsis dan Jadwal Tayang Lengkapnya di Sini

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah.

Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”

Baca Juga: Khutbah Jumat Terbaru Desember 2022, Tema Cara Mudah Masuk Surga dengan Berbakti kepada Ibu

Rumah laba-laba bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana atau disergapnya akan binasa.

Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya.

Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan sehingga dapat saling memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari sejenis binatang.

Baca Juga: Ceramah Ustadz Adi Hidayat tentang Safar: Simak Aturan Perjalanan, Jarak serta Hukum Sholat Jamak dan Qasar

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Lantas bagaimana dengan lebah? Al-Quran memiliki insting yang dalam bahasa Al-Quran lebah bergerak atas atas ilham dari Tuhan sehingga ia mampu memilih memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal.

Artinya: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’.” (QS An-Nahl: 68).

Sarang lebah dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan dalam lokasi.

Baca Juga: Doanya Ditolak, Ustadz Adi Hidayat: Mohon Maaf Mungkin Bukan Sekedar Tertunda Tapi Termasuk yang Ditolak

Yang dimakannya adalah kembang-kembang yang tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya.

Lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia.

Lilin digunakan untuk penerang dan madu kata Al-Quran dapat menjadi obat yang menyembuhkan.

Baca Juga: 40 Contoh Soal UAS PAS Sosiologi Kelas 12 Tahun 2022/2023 Beserta Kunci Jawabannya!

Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya.

Lebah tidak mengganggu kecuali yang mengganggunya, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah, 

Sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Jelas ada manusia yang “berbudaya semut”, yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu (tanpa mengolahnya) dan materi atau harta benda (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya).

Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Bakso di Pahoman Enggal Bandar Lampung, Lengkap dengan Alamat dan Menu

Budaya semut adalah “budaya menumpuk” yang disebarkan oleh “budaya mumpung”. Tidak sedikit problem masyarakat bersumber dari budaya tersebut.

Pemborosan adalah anak kandung budaya ini yang mendorong hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup indah untuk dipandang dan bermanfaat untuk digunakan.

Dapat dipastikan bahwa dalam masyarakat kita, banyak sekali semut yang berkeliaran.

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Menarik Tentang Larangan Menyerah saat Goncangan Musibah Sedang Melanda

Entah berapa banyak jumlah laba-laba yang ada di sekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagi butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah “siapa yang akan mereka jadikan mangsa.

Ia menjadi kiasan dari sifat manusia mencelakakan, dan rumah/lembaganya yang menjadi pelindungnya menjerumuskan siapa saja yang terpikat olehnya.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengibaratkan seorang Mukmin sebagai lebah, sesuatu yang tidak merusak dan tidak pula menyakitkan:

Baca Juga: Inilah Satu-satunya Kunci dari Syekh Ali Jaber Agar Dapat Kehidupan Sukses Dunia-Akhirat

Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya.

Lebih rinci lagi, lebah setidaknya memiliki tiga keistimewaan yang dapat menjadi analogi tentang karakter ideal manusia.

Pertama, lebah tak merusak ranting yang ia hinggapi, sekecil apapun pohon tersebut. Hal ini memberi pelajaran manusia agar menghindari berlaku yang menimbulkan mudarat atau kerugian terhadap orang lain.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Wisata Angker Favorit di Indonesia, yang Menyukai Horror Wajib Kesini

Lebah memang datang untuk makan, tapi ia tak ingin merusak untuk kepentingannya pribadinya itu.

Bahkan kerap kali lebah justri berjasa dalam proses penyerbukan sebuah bunga yang ia hinggapi. Kedua, lebah makan sesuatu yang baik-baik, yakni saripati bunga, sehingga yang dikeluarkannya pun baik-baik, yakni madu.

Manusia dituntut dalam kehidupan yang serba halal. Rezeki yang halal akan membuahkan perilaku yang positif.

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Terbaru Edisi Desember 2022: Dengan Ketaqwaan Kita Gapai Hidup Berkah dan Rezeki Melimpah

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah shalat jumat untuk senantiasa membersihkan jiwa dari kotoran tamak, keji, dan tak peduli orang lain.

Demikian teks khutbah Jumat singkat tentang belajar meneladani dari makhluk kecil ciptaan Allah SWT yang sangat berguna di kehidupan sehari-hari untuk kita terapkan.***

Rekomendasi