Khalifah Umar bin Khattab RA Pernah Tegur Gubernur yang Nggak Becus, Inspirasi Lawatan Jokowi ke Lampung?

inNalar.com – Suatu hari Gubernur Mesir Amr Bin as berencana membangun sebuah masjid besar di dekat istananya. Kebetulan, lokasinya bertepatan ddengan gubuk seorang Yahudi sehingga akan terjadi penggusuran paksa jika hal itu terjadi.

Oleh karena itu, Amr Bin Ash memanggil Yahudi pemilik rumah untuk diajak berdiskusi dan akan mendapatkan kompensasi harga dua kali lipat.

Akan tetapi ia bersikeras tidak ingin menjual gubuk tersebut karena menganggap telah banyak kenangan disana bersama keluarga dan kerabatnya.

Karena tidak menemukan jalan keluar, akhirnya gubernur memerintahkan kepala proyek untuk mengusir paksa Yahudi tersebut.

Baca Juga: Jokowi Instruksikan Sentralisasi Proyek Perbaikan Jalan Usai Kunjungi Lampung, Otonomi Daerah Tercoreng?

Karena merasa tak mendapatkan keadilan, ia menangis berurai ai rmata dan berniat untuk melaporkan kasus ini kepada pejabat yang lebih tinggi lagi yakni Khalifah Umar bin Khattab RA.

Perjalanan panjang dari Mesir ke Madinah pun ia tempuh untuk menuntut keadilan. Sepanjang jalan Yahudi berharap-harap cemas dengan membanding bandingkan kalau gubernurnya saja istananya begitu mewah, bagaimana lagi istananya khalifahnya? Kalau gubernrunya saja galak main gusur apalagi khalifahnya dan saya bukan orang Islam apa ditanggapi jika mengadu?

Hingga pada akhrinya ia bertemu dengan seseorang yang berpakaian lusuh sedang tidur-tiduran di bawah pohon kurma. Tanpa berfikir panjang, ia menghampiri sosok yang sedang beristirahat tersebut sembari tentang keberadaan Khalifah Umar bin Khattab.

“Apakah anda mengetahui dimana khalifah Umar bin Khattab? Tanya Yahudi Mesir kebingungan.

Baca Juga: Jokowi Lewati Jalan Rusak, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Malah Pasang Wajah Ketus

“Ya saya tau.” Jawab lawan bicaranya singkat.

“Di mana Istananya?” Tanya Yahudi kembali meminta penjelasan.

“Istananya di atas lumpur, pengawalnya yatim piatu, janda-janda tua, orang miskin dan orang tidak mampu.  Pakaian kebesarannya malu dan taqwa.” Jawab orang tersebut secara lengkap.

Sontak, jawaban tersebut membuat Yahudi Mesir itu menjadi kebingungan.

“Sekarang dimanakah ia?” Tanya Yahudi lebih jelas.

“Ya di hadapan tuan sekarang.” Pungkas Umar bin Khattab singkat.

Yahudi Mesir tersebut langsung merasakan gemetar dan keringat bercucuran disekujur tubuh. Ia tak menyangka sosok pimpinan tertinggi umat Islam jauh berbeda dengan gubernur Mesir yang sering ia lihat.  

Baca Juga: Nasib Pak Bas dan Erick Thohir Lebih Apes Ketimbang Presiden Jokowi saat Lintasi Jalanan Rusak di Lampung

“Anda dari mana dan apa keperluanmu?” Tanya balik khalifah Umar bin Khattab penasaran.

Yahudi yang memelas keadilan pun bercerita panjang lebar tentang wewenang Gubernur Amr bin Ash yang tidak sesuai dengan hak-hak penduduk sipil.

Setelah mendengarnya, Khalifah Umar bin Khattab RA. meminta Yahudi tersebut mengambil sepotong tulang unta dari tempat sampah di dekat situ.

Tiba-tiba, Umar menggoreskan ujung pedangnya dengan lurus untuk kemudian agar Yahudi itu memberikannya kepada Gubernur Amr bin Ash.

Kebingungan kian merebak di benak Yahudi tersebut. Bukan reaksi yang berapi-api atau kebijakan tertentu, ia hanya pulang membawa tulang bekas yang sedikit digores dengan pedang.

Bagaimanapun itu, ia pun pulang ke Mesir dan langsung memberikan tulang tersebut kepada Gubernur Amr bin Ash. Ia juga mengatakan bahwa tulang tersebut ia dapatkan dari Umar bin Khattab.

Baca Juga: Jadilah Pemimpin yang Rendah Hati, Gus Baha Ajak Masyarakat untuk Meneladani Sikap Umar bin Khattab

Mencengangkan, Amr bin Ash yang sebelumnya terlihat begitu perkasa bergemetar badannya setelah melihat pesan tersirat dari goresan diatas tulang tersebut. Walhasil, ia pun memerintahkan kepala proyek untuk membatalkan penggusuran gubuk Yahudi.

Gubernur Mesir itu pun berkata berkata pada Yahudi bahwa goresan tersebut menyiratkan instruksi dari khalifah Umar bin Khattab RA agar ia harus menggunakan wewenang dengan bijak karena suatu hari nanti ia akan juga menjadi tulang belulang.

Selain itu, garis lurus tersebut beramkna berlaku lurus dan adil ketika berkuasa adalah suatu kewajiban. Karena jika tidak, maka khalifah Umar bin Khattab akan meluruskannya kembali dengan pedangnya.

Kisah tersebut secara tidak langsung senada dengan kunjungan presiden Joko Widodo ke provinsi Lampung lantaran terjadi ketidak lurusan alokasi APBD untuk belanja kebutuhan perbaikan jalan.

Akhirnya, karena terjadi alur yang tidak lurus seperti goresan tulang diatas, pemerintah pusat mengambilalih wewenang otonomi daerah untuk urusan ini.***(Dadang Irsyamuddin)

Rekomendasi