

inNalar.com – Karet adalah salah satu komoditas utama Indonesia yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Bahkan, komoditas ini mendapat julukan emas putih karena menjadi penopang devisa negara yang memiliki pengaruh besar pada neraca pembayaran Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), provinsi Sumatera Selatan menjadi daerah penghasil karet terbesar di Indonesia.
Ratusan ribu petani di provinsi tersebut menggantungkan hidupnya pada getah dari pohon ini.
Tak hanya itu, industri pengolahan getah pohon ini sendiri banyak menyerap tenaga kerja karena termasuk industri hilir.
Karet mentah yang dipanen oleh petani bisa diubah menjadi produk-produk olahan seperti ban, sarung tangan, dan berbagai komponenn industri yang akan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Baca Juga: Tak Disangka, Kaum Jomblo Jadi Mahluk Paling Bahagia di DKI Jakarta, Ini Alasannya
Data BPS yang diperbarui pada 2 Mei 2024, menunjukkan bahwa Sumatera Selatan menduduki posisi paling wahid sebagai penghasil ‘emas putih’ ini di Indonesia.
Pada 2023, sebanyak 997.303,00 ton karet dihasilkan oleh Sumatera Selatan dan ditanam di lahan seluas 883,3 ribu hektar.
Dengan capaian tersebut, provinsi yang juga dikenal sebagai Bumi Sriwijaya ini mampu mengukuhkan posisinya sebagai daerah penghasil karet terbesar di Indonesia.
Baca Juga: DKI Jakarta Masuk 30 Besar Kota Termacet di Dunia, Jika Kemacetan Diurai Bisa Mengular 402,8 Km!
Sumatera Selatan sendiri pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi dikenal sebagai pusat kerajaan Sriwijaya yang juga merupakan kerajaan maritim terbesar di Nusantara.
Kondisi tanah di Bumi Sriwijaya ini memiliki struktur yang baik dan jaya akan bahan organik, sehingga cocok untuk pertumbuhan akar tanaman pohon ini.
Curah hujan di Sumatera Selatan cukup tinggi dan merata sepanjang tahun, yang sangat dibutuhkan oleh tanaman karet untuk pertumbuhan dan produksi getah.
Seolah didukung oleh semesta, sebagian besar wilayah Bumi Sriwijaya memiliki topografi yang landai hingga bergelombang, sehingga memudahkan pengelolaan perkebunan.
Kombinasi faktor alam, sejarah, infrastruktur, dan dukungan pemerintah menjadikan provinsi ini sebagai salah satu daerah penghasil karet terbesar di Indonesia.
Meski menjadi penghasil karet terbesar di Indonesia, namun menjadi petani yang menggarapnya di provinsi ini pun bukan tanpa kendala.
Baca Juga: Yakin Orang Jawa Barat Sulit Merantau? TOP 3 Perantau di 5 Daerah Yogyakarta Ini dari Jabar Loh
Harga komoditas ini yang seringkali fluktuatif di pasar global menjadikan pendapatan petani dna perusahaan perkebunan menjad tidak stabil.
Selain itu, saat ini juga muncul adanya produk karet sintetis yang lebih murah menjadi tantangan yang tidak kalah pelik.
Dari segi iklim, petani harus berjibaku dengan perubahan iklim di bumi ini karena tak dapat dipungkiri menjadi salah satu yang mempengaruhi produktivitas tanaman karet.
Tak dapat dipungkiri, karet memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian dan kehidupan masyarakat Indonesia hingga hari ini.
Namun, untuk menjaga keberlanjutan sektor perkebunan karet, perlu dilakukan berbagai upaya, seperti pengembangan teknologi budidaya yang lebih efisien, diversifikasi produk, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.***