

inNalar.com – Persahabatan RI dan Uni Emirat Arab (UEA) memang bagaikan kepompong. Terbukti, proyek limbah IKN di Kalimantan Timur pun turut libatkan perusahaan asal Dubai.
Proyek IKN Kalimantan Timur ini makin merekah tatkala RI mengokohkan kesepakatan Non Disclosure Agreement (NDA) dengan Perusahaan Alserkal Group – Envirol.
“Uni Emirat Arab adalah salah satu mitra dan saudara bagi Indonesia,”ungkap Agung Wicaksana.
Sebagai informasi, Agung Wicaksana adalah Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi Otoritas IKN (OIKN).
Tuturan Agung tersebut dikutip inNalar.com dari Portal Informasi Indonesia.
Nantinya pengelolaan limbah di ibukota Nusantara akan dikelola oleh Perusahaan asal Dubai tersebut.
Sekadar informasi, Emiten Envirol merupakan anak perusahaan Alserkal Group. Gerak bisnisnya berfokus pada teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan.
Sebagai selingan informasi, progres pengerjaan proyek limbah IKN, tepatnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) telah masuki progres positif.
Pembangunan IPAL 1-3 sudah mulai diprogres sejak Desember 2023 dengan nilai proyek sebesar Rp638,8 miliar.
Didukung dengan teknologi mutakhir Moving Bed Biofil Reactor (MBRR), nantinya proses daur ulang dipastikan ramah lingkungan.
Diharapkan progres proyek ini tetap melaju positif sehingga bisa selesai sesuai rencana, yakni selesai pada 2024.
Selain proyek limbah ini, rupanya persahabatan antara Indonesia dengan salah satu negara Timur Tengah ini terjalin erat di bidang lainnya.
Baca Juga: Terkendala Jaringan Internet, Siswa SMPN 31 Kabupaten Sinjai, Pulau Sembilan Ujian di Dermaga
Dari minat sektor energi sendiri, kedua negara dilekatkan oleh 5 proyek investasi senilai Rp314,9 triliun, menghimpun dari ESDM.
Buah ‘persahabatan’ mesra antara Presiden RI Joko Widodo dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed terlihat pada deretan 5 proyek berikut ini.
Pertama, jalinan kontrak antara Pertamina dengan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) terkait suplai LPG.
Diperkirakan nilai investasi yang tersedot dalam bidang ini berkisar 90 – 270 juta USD.
Kedua, masih melalui Pertamina, Perusahaan Dubai Mubadala Investment Company pun turut terlibat dalam Proyek Refinery Investment Principle Agreement (RIPA).
Besaran nilai Proyek RIPA tercatat estimasinya sebesar 1,6 miliar USD.
Ketiga, ADNOC dan Pertamina pun lanjut melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Proyek yang dimaksud adalah Program Pengembangan Project Crude to Petrochemical senilai 10,1 miliar USD.
Keempat, keberhasilan Proyek PLTS Terapung Cirata dengan Perusahaan Masdar senilai 129 juta USD pun masuk di dalamnya.
Kelima, yaitu kerja sama antara PT Inalum dan Emirates Global Aluminium terkait Adendum MoU Peningkatan Kapasitas Tungku Peleburan Smelter.
Menariknya, di luar total penanaman modal sebesar Rp314,9 triliun, UEA pun turut terlibat dalam proyek sektor pertahanan RI.
Terdapat 3 BUMN yang bergerak di bidang industri pertahanan menjalin ‘persahabatan’ dengan negara Arab ini.
PT Dirgantara Indonesia diketahui menjalin kerja sama dengan Calidus LLC.
Selain itu, emiten BUMN PT PAL pun teken MoU dengan Angkatan Laut Uni Emirat Arab.
Kemudian PT Pindad pun juga menjalin kerja sama dengan Calidus LLC dalam rangka upaya pengembangan kompetensi teknologi produk tempur.
Inilah deretan investasi perusahaan dari Uni Emirat Arab yang diketahui tidak hanya erat dalam kerja sama proyek IKN di Kalimantan Timur.
Namun juga dalam beberapa sektor lainnya yang semakin masif, baik di bidang minyak dan non-minyak.***