

inNalar.com – Salah satu provinsi di Kalimantan menjadi salah satu endemis virus Japanese Encephalitis (JE) yang menyumbang 30 kasus dari 145 kasus di Indonesia.
JE adalah penyakit radang otak yang penyebabnya virus Japanese Encephalitis.
Penularannya melalui nyamuk culex yang terinfeksi oleh virus ini, selain itu virus ini memang memerlukan hewan sebagai perantara.
Hewan perantaranya seperti babi, kerbau serta beberapa jenis burung, nyamuk yang disebutkan ini berkembang biak di genangan air dan juga menggigit biasa di malam hari.
Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat di Asia.
Fatalnya bagi penderita yang bertahan hidup akan mengalami sisa gelaja seperti lumpuh atau kejang, perubahan perilaku sampai kecacatan berat.
Saat ini belum ada temuan obat dalam menyembuhkan penyakit JE dan memerlukan upaya memutus rantai penularan namun bisa dicegah dengan pemberian imunisasi.
Adanya penyakit tersebut membuat Kemenkes RI menargetkan imunisasi JE kepada anak yang berdomisili di Kalimantan.
Provinsi yang dimaksud ialah Kalimantan Barat dengan imunisasi sebanyak 1,3 juta anak pada usia 9 bulan sampai 15 tahun.
Tanpa ada biaya alias gratis yang dilakukan di pos pelayanan imunisasi seperti PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs, posyandu, puskesmas, rumah sakit atau fasyankes lainnya.
Pada Kalimantan Barat pelaksanaan imunisasi akan ditargetkan rampung di November 2023.
Setelahnya akan dimasukan dalam jadwal rutin imunisasi Kalbar di usia anak 10 bulan sampai dengan kurang 15 tahun.
Penyakit ini akan menimbulkan gejala setelah 4-15 hari setelah terinfeksi antara lain
Dalam pencegahannya bisa menghindari gigitan nyamuk dengan pemberantasan sarang nyamuk atau memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, obat anti nyamuk, memasang kawat pada ventilasi dan menaburkan bubuk larvasida di penampungan air.
Pemberian imunisasi JE juga termasuk dalam pencegahan penularan penyakit JE ini.***